Sabtu, 06 Juni 2015

PENGOBATAN SINSHE

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR    ...............................................i
DAFTAR ISI    1
BAB I PENDAHULUAN    2
1.1    Latar Belakang    2
1.2    Rumusan Masalah    2
1.3     Tujuan    3
       1.4       Manfaat    3
BAB II PEMBAHASAN    4
2.1       Pengertian Pengobatan Sinshe    ..........................4
2.2       Macam-macam Obat Herbal Sinshe    4
2.3       Keunggulan Pengobatan Sinshe    10
BAB II PENUTUP    ...............................................12
DAFTAR PUSTAKA    13











BAB I
PENDAHULUAN


1.1       Latar Belakang
Praktisi pelayanan kesehatan tradisional Tionghoa Indonesia yang lebih dikenal dengan sebutan “sinshe” sudah tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Hal ini tidak mengherankan, sebab menurut penelusuran pakar dan peneliti dari Depkes RI, dr. Benyamin Lumenta, keberadaan ahli pengobatan China sudah ada sejak tahun 1640 di Batavia (B. Lumenta, 1989).
Pada umumnya sinshe Indonesia memperoleh keterampilannya secara turun temurun, atau melalui pendidikan nonformal/kursus. Sebagian kecil memperoleh keahliannya melalui pendidikan formal di perguruan tinggi TCM di luar negeri (China, Australia, dll.).
Berdasarkan amanat UU No.36 tahun 2009 tentang Kesehatan, pelayanan kesehatan tradisional merupakan salah satu dari upaya pelayanan kesehatan yang perlu dikembangkan oleh masyarakat Indonesia. Organisasi yang menghimpun sinshe di Indonesia adalah Ikatan Naturopatis Indonesia (disingkat IKNI) yang berdiri tahun 1975. Sejak berdiri, IKNI telah dibina oleh Kementerian Kesehatan RI dan bermitra dengan Kementerian Kesehatan RI dalam pembinaan para sinshe. Selain melakukan pembinaan para sinshe yang memberikan pelayanan pengobatan tradisional Tionghoa kepada masyarakat, IKNI juga mengadakan kursus dan pelatihan di bidang ilmu sinshe sejak tahun 1985
1.2       Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang kami buat, maka dapat kami tarik rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Apa itu yang dimaksud dengan pengobatan Sinshe?
2.      Apa saja macam-macam obat herbal Sinshe?
3.      Apa keunggulan pengobatan herbal Sinshe?

1.3       Tujuan penulisan
1.      Untuk mengetahui pengertian dari pengobatan Sinshe
2.      Untuk mengetahui macam-macam obat herbal Sinshe
3.      Untuk mengetahui keunggulan dari pengobatan herbal Sinshe

1.4       Manfaat penulisan
1.      Agar kita mengetahui pengertian dari pengobatan Sinshe
2.      Agar kita mengetahui macam-macam obat herbal Sinshe
3.      Agar kita mengetahui keunggulan dari pengobatan herbal Sinshe


     
BAB II
PEMBAHASAN

2.1       Pengertian Pengobatan Sinshe
Pengobatan sinshe fengshui adalah metode pengobatan yang memadukan obat obatan herbal berkhasiat tinggi dengan resep pengobatan Cina Kuno yang telah berusia ribuan tahun dan pedoman fengshui yang menyeimbangkan lima unsure alam ( kayu,api, tanah, logam, air).
Pada dasarnya, segala proses dalam tubuh manusia berhubungan atau berinteraksi dengan lingkungan. Karena itu penyebab penyakit yang sesungguhnya adalah ketidakharmonisan antara lingkungan sekitar dengan proses dalam tubuh seseorang. Sehingga untuk memperoleh kesembuhan, yang diperlukan hanyalah menyeimbangkan antara proses dalam tubuh dengan lingkungan di luar tubuh.

2.2       Macam-macam Obat Herbal Sinshe
Obat herbal Sinshe tersedia sangat banyak dan dapat menyembuhkan berbagai macam  penyakit tetapi dalam makalah yang telah kami tulis hanya akan membahas 10 contoh pengobatan sinshe yaitu :
1.      Herbal Sinshe Aromaterapi
Herbal Sinshe Aromaterapi adalah paket aromaterapi Herbal yang berkhasiat untuk menenangkan pikiran, menyembuhkan berbagai penyakit atau gangguan kesehatan, menghilangkan stress, melunturkan energi negatif dan mengembalikan kebugaran tubuh lewat aroma wanginya yang mengalirkan energi spiritual tersendiri. Setiap paketHerbal Sinshe Aromaterapi berisi tungku aromaterapi, lilin aromaterapi dan minyak aromaterapi
Herbal Sinshe Aromaterapi termasuk dalam metode Pengobatan Sinshe Fengshui yang menggunakan uap minyak Herbal khusus sebagai media penyembuhan. Minyak Herbal dan lilin khusus yang disertakan merupakan hasil racikan istimewa yang diramu dari berbagai sari tanaman berkhasiat. Sehingga hasilnya,Herbal Sinshe Aromaterapi bermanfaat untuk:
a.       Meringankan stress
Ini merupakan salah satu manfaatHerbal Sinshe Aromaterapi yang paling populer, yaitu untuk menghilangkan tekanan atau beban pikiran. Bila dibiarkan, stress yang bertumpuk dapat berubah menjadi penyakit. Selain menenangkan jiwa dan pikiran, herbal sinshe aromaterapi juga ampuh menghilangkan kecemasan berlebih dan mengurangi amarah serta menstabilkan emosi
b.      Menghilangkan depresi
Herbal sinshe aromaterapi merupakan produk racikan alami, sehingga tidak memiliki efek samping apapun yang biasanya dimiliki antidepresan farmasi (obat-obatan)
c.       Meningkatkan memori
Bila digunakan secara teratur, herbal sinshe aromaterapi dapat meningkatkan kemampuan mengingat seseorang. Terutama bagi anda yang memiliki beban pekerjaan cukup tinggi atau telah berusia lanjut.
d.      Meningkatkan kemampuan fisik
Penggunaan herbal sinshe aromaterapi dapat meningkatkan kemampuan fisik seseorang secara keseluruhan karena berfungsi meningkatkan sirkulasi darah, meningkatkan tenaga atau energy, merangsang tubuh dan fikiran serta memaksimalkan kerja otak.
e.       Menyembuhkan berbagai penyakit dan memulihkan kesehatan
Energy penyembuhan yang terkandung dalam aroma wangi herbal sinshe aromaterapi memapu meningkatkan kemampuan tubuh untuk menyembuhkan luka atau penyakit secara alami. Mengapa demikian? Karena dengan menggunakan herbal sinshe aromaterapi, aliran oksigen dan peredaran darah ke daerah luka menjadi semakin lancar.
f.       Mengobati sakit kepala
Herbal sinshe aromaterapi merupakan solusi tepat untuk menghilangkan seklaigus mencegah sakit kepala. Terlebih jika sakit kepala tersebut disebabkan karena stress dan kecemasan berlebih. Migraine juga dapat dibantu penyembuhannya dengan herbal sinshe aromaterapi.
g.      Mengatasi insomnia
Insomnia atau sulit tidur bisa mengakibatkan dan memperburuk sejumlah gangguan kesehatan. Juga dapat mengakibatkan lesu dan kelelahan. Dalam hal ini, herbal sinshe aromaterapi membantu mengatasi gangguan insomnia secara alami.
h.      Memperkuat system kekebalan tubuh
Mencegah lebih baik daripada mengobati, inilah salah satu fungsi herbal aromaterapi. Energy penyaembuhannya dapat meningkatkan system kekebalan tubuh dan melindungi anda dari sejumlah penyakit serta infeksi.
i.        Menghilangkan rasa nyeri
Herbal sinshe aromaterapi  dibuat dari bahan khusus yang memiliki khasiat analgesik, sehingga dapat menghilangkan rasa nyeri.
j.        Memperlancar pencernaan
Sejumlah masalah pencernaan dapat disembuhkan dengan herbal sinshe aromaterapi, seperti sembelit, kembung, maag dan lain sebagainya.
2.      Herbal Sinshe Sambiloto
Sambiloto merupakan tanaman obat diabetes yang dapat tumbuh hingga mencapai tinggi 90 sentimeter. Tanaman sambiloto digunakan untuk mencegah pembentukan radang, memperlancar air seni (diuretika), meluruhkan asam urat, menurunkan panas badan( antipiretika), obat sakit perut, kencing manis, dan membantu menetralkan racun. Kandungan kalium dalam tanaman sambiloto juga berkhasiat menurunkan tekanan darah.
3.      Herbal Sinshe Lidah Buaya
Tanaman lidah buaya yang lazim digunakan sebagai bahan baku kosmetik secara alamiah mengandung aloin, emodin, gum, dan minyak atsiri. Dengan kandungannya tersebut tanaman lidah buaya bermanfaat untuk mengobati sakit kepada, sembelit, kejang, kurang gizi, betuk rejan, muntah darah, kencing manis, wasir, dan membantu menyembuhkan luka bakar serta mengurangi imfeksi.
4.      Herbal Sinshe Pare
Buah pare atau paria telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional cina, aryuveda, brasil dan meksiko sebagai obat diabetes. Umumnya, daun dan buah pare ditumbuk dan diperas untuk diambil jusnya. Jus tersebut kemudian diminum secara langsung. Sebagai alternative, mereka yang tidak menyukai rasa pahit pare mengkonsumsi tanaman ini dengan cara diseduh sebagai teh.
5.      Herbal Sinshe Kayu Manis
Kayu manis adalah tanaman rempah-rempah beraroma yang juga merupakan salah satu bumbu makanan tertua di dunia. Manfaat kayu manis sebagai obat tradisional adalah untuk mengobati :
a.       Kolesterol tinggi
b.      Gula darah tinggi, sehingga ampuh mengobati kencing manis atau diabetes.
c.       Flu
d.      Nyeri haid
e.       Mencegah dan mengobati kanker
f.       Rematik
g.      Penyakit jantung
h.      Serta berkhasiat sebagai anti-bakteri
6.      Herbal Sinshe Jahe
Jahe adalah tanaman rempah serbaguan yang bisa dijadikan bahan minuman, bumbu masakan, dan bahkan untuk mengobati berbagai gangguan kesehatan. Jahe mengandung vitamin A, C, E, B Kompleks, magnesium, fosfor, kalium, silicon, zat besi, seng, kalsium, dan beta-karoten. Kandungan tersebut membuat jahe berkhasiat untuk :
a.       Mengobati diabetes atau kencing manis, karena mampu mengontrol gula dalam darah.
b.      Mengatasi sakit perut dan kembung.
c.       Meningkatkan kesehatan jantung.
d.      Mencegah demam karena flu
e.       Mencegah penyakit kanker
f.       Mengurangi nyeri haid
g.      Mengobati nyeri
h.      Mengatasi migraine
i.        Meredakan batuk.
7.      Herbal Sinshe Tapak Liman
Tapak liman adalah tanaman yang secara alami dikenal ampuh mengatasi anemia. Tumbuhan obat ini kaya akan saponin, flavonoid, dan polifenol. Akar dan daun tapak liman juga terbukti mengandung banyak zat besi.
8.      Herbal Sinshe Lempuyang Wangi
Lempuyang wangi sangat manjur mengobati aanemia atau kurang darah. Bagian lempuyang wangi yang dikenal paling berkhasiat adalah rimpangnya. Rimpang lempunyang wangi berbau sedap dan berasa sangat pahit. Namun dibalik pahitnya rimpang itu dapat digunakan sebagai obat asma, merangsang nafsu makan, merangsang membrane mukosa lambung, mengurangi rasa nyeri, membersihkan darah, meredakan kejang, mengobati penyakit empedu, mengobati penyakit kuning, mengobati radang sendi, batuk rejan, kolera, anemia, malaria, penyakit syaraf, nyeri perut, cacingan dan masuk angin.
9.      Herbal Sinshe Daun Salam
Daun salam adalah nama tanaman obat seklaigus bumbu dapur yang biasa digunakan sebagai bumbu dapur untuk penyedap dan pengharum masakan. Selain digunakan sebagai bumbu masak, daun salam juga kerap digunakan sebagai obat obat tradisional. Beberapa penyakit bisa disembuhkan dengan daun salam, mulai dari diare, maag, kencing manis, asam urat, darah tinggi dan kolesterol tinggi.
10.  Herbal Sinshe Mengkudu
Buah mengkudu atau buah pace adalah buah yang memiliki banyak khasiat dan dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Sejak zaman dahulu, Mengkudu digunakan sebagai obat, mulai dari buah, daun, batang, hingga akarnya. Kandungan buah mengkudu antara lain vitamin, mineral, dan protein penting. Penyakit yang dapat disembuhkan dengan buah mengkudu antara lain:  hepatitis, hipertensi atau tekanan darah tinggi, batuk, diabetes, radang tenggorokan, encok, pegal linu, diare, masuk angin.


2.3       Keunggulan Pengobatan Sinshe
Memilih obat tidak boleh sembarangan. Salah-salah, bukannya menjadi sembuh penyakit anda malah semakin parah. Obat yang ideal tidak hanya manjur, tetapi juga aman. Faktor aman ini dapat dicapai dengan mengkonsumsi obat herbal, seperti herbal sinshe yang di proses dari bahan-bahan alami pilihan.
Selain berbahan alami, pengobatan sinshe fengshui masih banyak keunggulan yang membedakannya dari metode pengobatan herbal pada umumnya. Keunggulan metode pengobatan sinshe fengshui antara lain:
1.      Aman
Dalam pengobatan sinshe fengshui, semua jenis obst herbal merupakan racikan tradisional yang tidak mengandung bahan berbahaya, sehingga benar-benar aman dikonsumsi sebagai penyembuh.Herbal Sinshe tidak tersentuh senyawa kimia apapun.
2.      Halal
Semua orang berhak sembuh dan hidup sehat. Karena itu sangat penting untuk mneyediakan obat herbal Pengobatan sinshe fengshui yang bisa digunakan oleh semua kalangan.
3.      Alami
Disebur herbal sinshe karena karya pengobatan sinshe merupakan obat herbal alami. Semua bahan dipilah, dipilih dan diproses menurut tata cara tertentu utnuk memastikan khasiat bahan tetap terjaga.
4.      Bahan pilihan
Semua tanaman obat yang digunakan sebagai ramuan dalam pengobatan sinshe fengshui bukan tanaman obat sembarangan. Melainkan tanaman obat pilihan yang dipilah dan dipilih dengan sedemikian rupa, mulai dari kualitas, kuantitas, usia hingga tempat tumbuhnya tanaman tersebut. Semuanya harus sesuai dengan pedoman dan resep pengobatan sinshe fengshui. Karena itu disini kami menyebut bahan-bahan tersebut sebagai Herbal sinshe sambiloto, herbal sinshe tapak dara, herbal sinshe temulawak dan seterusnya.

5.      Praktis
Semakin hari pengobatan tradisional semakin jarang menjadi rujukan, bukan karena kurang manjur tetapi karena terlalu ribet. Tidak demikian halnya dengan pengobatan sinshe fengshui. Anda tidak perlu susah payah merebus obat sendiri dan memeinum jamu rebusan yang sangat pahit. Karena obat sinshe dikemas dalam bentuk kapsul siap minum.
6.      Higienis dan modern
Meski berbasis pengobatan herbal tradisional, semua sarana pengobatan dalam pengobatan sinshe fengshui telah melalui proses pengolahan yang modern dan higienis. Hali ini sangat diperhatikan demi menjamin kualitas obat herbal yang bersangkutan.
7.      Racikan khusus
Satu racikan belum tentu cocok untuk dua orang, apalagi lebih. Meski penyakit yang diderita keduanya sama persis. Karena itu tiap-tiap herbal sinshe perlu disesesuaikan dengan keseimbangan lima unsure sis penderita. Temulawak, sirih dan asam jawa memang sama-sama ampuh membasmi kolesterol, tetapi tidak semua orang cocok dengan ketiga bahan tersebut. Dilihat dari unsure kelahirannya, ada yang lebih cocok menggunakan racikan temulawak, ada pula yang lebih cepat sembuh dengan racikan asam jawa.
8.      Pengisian energy penyembuhan
Inilah yang tidak bisa dilakukan oleh sembarang ahli pengobatan. Semua obat herbal sinshe yang dipesan selalu melewati proses penyelarasan energy sebelum dikirimkan. Sehingga khasiat penyembuhan alami yang dimiliki tiap-tiap jenis obat herbal bisa menyatu dengan tubuh yang hendak meminum obat tersebut. Karena itulah, penting bagi seseorang yang akan melakukan pengobatan sinshe yaitu dengan menyebutkan nama lengkap dan tanggal lahir ketika melakukan pemesanan.


BAB III
PENUTUP
Pengobatan sinshe fengshui adalah metode pengobatan yang memadukan obat obatan herbal berkhasiat tinggi dengan resep pengobatan Cina Kuno yang telah berusia ribuan tahun dan pedoman fengshui yang menyeimbangkan lima unsure alam ( kayu,api, tanah, logam, air).
Macam-macam obat herbal Sinshe :
a.       Herbal Sinshe Aromaterapi
b.      Herbal Sinshe Sambiloto
c.       Herbal Sinshe Lidah Buaya
d.      Herbal Sinshe Pare
e.       Herbal Sinshe Kayu Manis
f.       Herbal Sinshe Jahe
g.      Herbal Sinshe Tapak Liman
h.      Herbal Sinshe Lempuyang Wangi
i.        Herbal Sinshe Daun Salam
j.        Herbal Sinshe Mengkudu
Keunggulan pengobatan herbal sinshe :
a.       Aman
b.      Halal
c.       Alami
d.      Bahan pilihan
e.       Praktis
f.       Higienis dan modern
g.      Racikan khusus
h.      Pengisian energy penyembuhan


DAFTAR PUSTAKA
http://www.pengobatansinshe.com
http://www.infokursus.net/download/kbkSinShe.pdf
http://www.indosiar.com/ragam/pengobatan-sinshe-atas-dasar-kepercayaan_21291.html

Selasa, 02 Juni 2015

KEBUTUHAN DASAR MANUSIA

KETERAMPILAN DASAR KEBIDANAN 1
“KEBUTUHAN PSIKOSOSIAL & KEBUTUHAN DASAR MANUSIA(ABRAHAM MASLOW)”

   

Nama  : Meifa Dewi Rahmawatik
NIM    : 14150013
Kelas   : A11.1
Prodi   : DIII-Kebidanan




FAKULTAS ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN
UNIVERSITAS RESPATI YOGYAKARTA
2014/2015

PENJELASAN
A.    Pengertian Kebutuhan Psikososial
Psikososial adalah setiap perubahan dalam kehidupan individu, baik yang bersifat psikologik maupun sosial yang mempunyai pengaruh timbal balik. Masalah kejiwaan dan kemasyarakatan yang mempunyai pengaruh timbal balik, sebagai akibat terjadinya perubahan sosial dan atau gejolak sosial dalam masyarakat yang dapat menimbulkan gangguan jiwa.
Contoh masalah psikososial antara lain: psikotik gelandangan dan pemasungan, penderita gangguan jiwa, masalah anak- anak jalanan dan penganiayaan anak, masalah anak remaja: tawuran dan kenakalan, penyalahgunaan narkotika dan psikotropika, masalah seksual: penyimpangan seksual, pelecehan seksual dan eksploitasi seksual, tindak kekerasan sosial, stress pasca trauma, pengungsi/ migrasi, masalah usia lanjut yang terisolir, masalah kesehatan kerja: kesehatan jiwa di tempat kerja, penurunan produktifitas dan stres di tempat kerja, dan lain-lain: HIV/AIDS
Pengertian psikososial yang lain adalah manusia adalah makhluk biopsikososial yang unik dan menerapkan system terbuka serta saling berinteraksi. Manusia selaulu berusaha untuk mempertahankan keseimbangan hidupnya. Keseimbangan yang dipertahankan oleh setiap individu untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya, keadaan ini disebut dengan sehat. Sedangkan seseorang dikatakan sakit apabila gagal dalam mempertahankan keseimbangan diri dan lingkungannya. Sebagai makhluk social, untuk mencapai kepuasan dalam kehidupan, mereka harus membina hubungan interpersonal positif.
B.    Status Emosi
Setiap individu mempunyai kebutuhan emosi dasar, termasuk kebutuhan akan cinta, kepercayaan, otonomi, identitas, harga diri, penghargaan dan rasa aman. Schultz (1966) Merangkum kebutuhan tersebut sebagai kebutuhan interpersonal untuk inklusi, control dan afeksi. Bila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, akibatnya dapt berupa perasaan atau prilaku yang tidak diharapkan, seperti ansietas, kemarahan, kesepian dan rasa tidak pasti.
Rentang Respon Emosional :




     RENTANG RESPONS EMOSIONAL
Respons Adaptif                                                                               Respons Maladaptif

Kepekaan emosional    Reaksi berduka takterkomplikasi    Supresi emosi    Penundaan reaksi berduka    Depresi/mania

a.       Kepekaan emosional
Adalah respons emosional termasuk dipengaruhi oleh dan berperan aktif dalam dunia internal dan eksternal sesorang. Tersirat bahwa orang tersebut terbuka dan sadar akan perasaannya sendiri.
b.      Reaksi berduka takterkomplikasi
Terjadi sebagai respons terhadap kehilangan dan tersirat bahwa seseorang sedang menghadapi suatu kehilngan yang nyata serta terbenam dalam proses berdukanya.
c.       Supresi emosi
Mungkin tampak sebagai penyangkalan (denial) terhadap perasaan sendiri, pelepasan dari keterikatandengan emosi atau penalaran terhadap semua aspek dari dunia afektif seseorang.
d.      Penundaan reaksi berkabung
Ketidakadaan yang persisten respons emosional terhadap kehilangan.Ini dapat terjadi pada awal proses berkabung dan menjadi nyata pada kemunduran proses, mulai terjadi atau keduanya. Penundaan dan penolakan proses berduka kadang terjadi bertahun-tahun.
e.       Depresi atau melankolia
Suatu kesedihan atau perasaan berduka berkepanjangan. Dapat digunakan untuk menunjukkan berbagai fenomena, tanda, gejala, sindrom, keadaan emosional, reaksi, penyakit atau klinik.
C.    Konsep Diri
Konsep diri adalah semua perasaan kepercayaan dan nilai yang diketahui tentang dirinya dan memengaruhi individu dalam bersosialisasi dengan orang lain. Konsep diri berkembang secara bertahap saat bayi mulai mengenal dan membedakan dirinya dengan orang lain.Berkembang secara bertahap, saat bayi mulai mengenal dan membedakan diri dengan orang lain.Pembentukan KD atau konsep diri dipengaruhi asuhan orang tua dan lingkungan.Tercapai aktualisasi diri ( Hirarkhi maslow) → Perlu KD/konsep diri yang sehat. Pembentukan konsep diri ini tidak jauh dari asuhan orang tua dan lingkungannya. Komponen konsep diri/KD ada beberapa hal yaitu :
1.    Citra diri
Adalah sikap seseorang terhadap tubuhnya secara sadar dan tidak sadar. Sikap ini mencakup presepsi dari pasangan tentang ukuran, bentuk, dan fungsi penampilan tubuh saat ini dan masa lalu. Faktor predisposisi gangguan citra tubuh meliputi kehilangan atau kerusakan bagian tubuh (anatomi dan fungsi), perubahan ukuran, bentuk dan penampilan tubuh (akibat pertumbuhan dan perkembangan serta penyakit), proses patologik penyakit dan dampaknya terhadap struktur maupun fungsinya, prosedur pengobatan seperti radiasi, kemoterapi dan transplantasi (Suliswati, dkk, 2005).
2.    Ideal Diri
Presepsi individu tentang bagaimana ia harus berperilaku sesuai dengan standar perilaku. Ideal diri akan mewujudkan cita-cita dan harapan pribadi. Seseorang yang memiliki konsep diri yang baik tentang ideal diri apabila dirinya mampu bertindak dan berperilaku sesuai dengan kemampuan yang ada pada dirinya dan sesuai dengan apa yang diinginkannya.
Pembentukan ideal diri dimulai pada masa kanak-kanak dipengaruhi oleh orang yang penting pada dirinya yang memberikan harapan atau tuntutan tertentu. Seiring dengan berjalannya waktu individu menginternalisasikan harapan tersebut dan akan membentuk dasar dari ideal diri (Suliswati, dkk, 2005).
3.    Harga diri (HD)
Penilaian terhadap hasil yang dicapai dengan analisis → sejauh mana prilaku memenuhi ideal diri.Sukses → HD tinggi, gagal → HD rendah. HD diperolah dari diri sendiri dan orang lain. Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisis seberapa banyak kesesuaian tingkah laku dengan ideal dirinya. Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan orang lain yaitu dicintai, dihormati dan dihargai. Individu akan merasa harga dirinya tinggi bila sering mengalami keberhasilan, sebaliknya individu akan merasa harga dirinya rendah bila sering mengalami kegagalan, tidak dicintai atau diterima lingkungan. Pada masa dewasa akhir timbul masalah harga diri karena adanya tantangan baru sehubungan dengan pensiun, ketidakmampuan fisik, brepisah dari anak, kehilangan pasangan dan sebagainya (Suliswati, dkk, 2005). Seseorang memiliki konsep diri yang baik berkaitan dengan harga diri apabila mampu menunjukkan keberadaannya dibutuhkan oleh banyak orang, dan menjadi bagian yang dihormati oleh lingkungan sekitar.
Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan orang lain. Manusia cenderung bersikap negatif, walaupun ia cinta dan mengenali kemampuan orang lain namun ia jarang mengekspresikannya. Harga diri akan rendah jika kehilangan kasih sayang dan penghargaan dari orang lain serta mengalami ketidakmampuan pada dirinya dan juga sebaliknya (Perry & Potter, 2005).
Faktor predisposisi gangguan harga diri meliputi penolakan dari orang lain, kurang penghargaan, pola asuh yang salah, terlalu dilarang, terlalu dikontrol, terlalu dituruti, terlalu dituntut dan tidak konsisten, persaingan antar saudara, kesalahan dan kegagalan yang berulang, dan tidak mampu mencapai standar yang ditentukan (Suliswati, dkk, 2005).
4.    Peran diri (PD).
Peran adalah serangkaian pola sikap perilaku, nilai dan tujuan yang diharapkan oleh masyarakat dihubungkan dengan fungsi individu didalam kelompok sosialnya. Peran memberikan sarana untuk berperan serta dalam kehidupan sosial dan merupakan cara untuk menguji identitas dengan memvalidasi pada orang yang berarti (Suliswati, dkk, 2005). Individu dikatakan mempunyai konsep diri yang baik berkaitan dengan peran adalah adanya kemampuan untuk berperan aktif dalam lingkungan, sekaligus menunjukkan bahwa keberadaannya sangat diperlukan oleh lingkungan.
Faktor predisposisi gangguan peran meliputi tiga kategori transisi peran yaitu perkembangan. Setiap perkembangan dapat menimbulkan ancaman pada identitas. Setiap tahap perkembangan harus dilalui individu dengan menyelesaikan tugas perkembangan yang berbeda-beda. Hal ini dapat merupakan stressor bagi peran diri. Kedua adalah transisi situasi, yaitu transisi situasi terjadi sepanjang daur kehidupan bertambah / berkurang orang yang berarti melalui kematian / kelahiran. Misalnya status sendiri menjadi berdua / menjadi orang tua. Perubahan status menyebabkan perubahan peran yang dapat menimbulkan ketegangan peran. Ketiga adalah transisi sehat sakit, yaitu stressor pada tubuh dapat menyebabkan gangguan konsep diri, termasuk didalamnya gambaran diri, identitas diri, harga diri dan peran diri (Perry & Potter, 2005).
5.    Identitas Diri
Identitas diri adalah kesadaran tentang diri sendiri yang dapat diperoleh dari observasi dan penilaian terhadap dirinya, menyadari individu bahwa dirinya berbeda dengan orang lain. Identitas diri merupakan sintesis dari semua aspek konsep diri sebagai suatu kesatuan yang utuh, tidak dipengaruhi oleh pencapaian tujuan, atribut atau jabatan serta peran. Seseorang yang memiliki perasaan identitas diri yang kuat akan memandang dirinya berbeda dengan orang lain, dan tidak ada duanya. Kemandirian timbul dari perasaan berharga, kemampuan dan penguasaan diri. Dalam identitas diri ada otonomi yaitu mengerti dan percaya diri, respek terhadap diri, mampu menguasai diri, mengatur diri dan menerima diri (Suliswati, dkk, 2005).
Pencapaian identitas diperlukan untuk hubungan yang intim karena identitas seseorang diekspresikan dalam berhubungan dengan orang lain. Seksualits adalah bagian dari identitas seseorang. Identitas seksual adalah gambaran seseorang tentang diri sebagai pria atau wanita dan makna dari citra tubuh (Perry & Potter, 2005).
Faktor predisposisi gangguan identitas diri meliputi ketidakpercayaan, tekanan dari teman dan perubahan struktur sosial. Masalah spesifik sehubungan dengan konsep diri adalah situasi yang membuat individu sulit menyesuaikan diri atau tidak dapat menerima khususnya trauma emosi seperti penganiayaan fisik, seksual dan psikologis pada masa anak-anak atau merasa terancam kehidupannya atau menyaksikan kejadian berupa tindakan kejahatan (Suliswati, dkk, 2005).

D.    Teori Abraham Maslow









Dari piramida tersebut disini dapat dijabarkan dari dasar-dasar teori Abraham Maslow :
A.    Kebutuhan Fisiologi / Dasar
      Fisiologi adalah turunan biologi yang mempelajari bagaimana kehidupan berfungsi secara fisik dan kimiawi.
Fisiologi menggunakan berbagai metode ilmiah untuk mempelajari biomolekul, sel, jaringan,organ, sistem organ, dan organisme secara keseluruhan menjalankan fungsi fisik dan kimiawinya untuk mendukung kehidupan.
    Menurut Abraham Maslow kebutuhan fisiologi sangat mendasar, paling kuat dan paling jelas dari antara sekian kebutuhan adalah untuk mempertahankan hidupnya secara fisik. Yaitu kebutuhan untuk makan, minum,tempat tinggal, sexs tidur dan oksigen. Manusia akan menekan kebutuhannya sedemikian rupa agar kebutuhan fisiologis (dasar)nya tercukupi. Sebagai contoh:
•    pengeluaran zat sis, di mana seseorang harus mengeluarkan zat-zat sisa yang sedah tidak terpakaioleh tubuh. Karena jika tidak di kelurkan akan mengakibatkan penyakit/pembentukan penyakit.
•    Oksigen (O2) merupakan salah satu kebutuhan vital untuk kehidupan kita. Dengan mengkonsumsi oksigen yang cukup akan membuat organ tubuh berfungsi dengan optimal. Jika tubuh menyerap oksigen dengan kandungan yang rendah dapat menyebabkan kemungkinan tubuh mengidap penyakit kronis. Sel-sel tubuhyang kekurangan oksigen juga dapat menyebabkan perasaan kurang nyaman, takut atau sakit. Menguap adalah salah satu sinyal tubuh kekurangan oksigen selain karena mengantuk.
B.    Kebutuhan Akan Rasa Nyaman dan Aman   
     Kebutuhan akan rasa aman ini baiasanya terpuaskan pada orang-orang yang sehat dan normal.Seseorang yang tidak aman akan memiliki kebutuhan akan keteraturan dan setabilitas yang sanggat berlebihan dan menghindari hal-hal yang bersifat asing dan yang tidak di harapkannya.berbeda dengan orang yang merasa aman dia akan cenderung santai tanpa ada kecemasan yang berlebih. Perlindungan dari udara panas/dingin, cuaca jelek, kecelakaan,infeksi, alergi, terhindar dari pencurian dan mendapatkan perlindungan hukum
Bebas dari penjajahan, bebas dari ancaman, bebas dari rasa sakit, bebas dariteror, dan lain sebagainya.
Sebagai contoh :
•    Seseorang membangun rumah untuk melindungi diri dari hujan panas memenuhi kepuasan untuk dirinya
•    Saat indonesia di jajah kita melawan penjajah tersebut dan akhirnya merdeka karena saat terjajah kita tidak merasa amanan.
C.    Kebutuhan akan rasa kasih sayang dan rasa memiliki (love and Belonging needs)
     Ketika seseorang merasa bahwa kedua jenis kebutuhan di atas terpenuhi, maka akan mulai timbul kebutuhan akan rasa kasih sayang dan rasa memiliki. Hal ini dapat terlihat dalam usaha seseorang untuk mencari dan mendapatkan teman, kekasih, anak, atau bahkan keinginan untuk menjadi bagian dari suatu komunitas tertentu seperti tim sepakbola, klub peminatan dan seterusnya. Jika tidak terpenuhi, maka perasaan kesepian akan timbul.
D.    Kebutuhan    Akan    Harga    Diri(Eteemneeds)
     Kemudian, setelah ketiga kebutuhan di atas terpenuhi, akan timbul kebutuhan akan harga diri. Menurut Maslow, terdapat dua jenis, yaitu lower one dan higher one. Lower one berkaitan dengan kebutuhan seperti status, atensi, dan reputasi. Sedangkan higher one berkaitan dengan kebutuhan akan kepercayaan diri, kompetensi, prestasi, kemandirian, dan kebebasan. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, maka dapat timbul perasaan rendah diri dan inferior. Harga diri meliputi kebutuhan akan kepercayaan diri, kompetensi, penguasaan, kecukupan, prestasi, ketidak tergantungan dan kebebasan
Kebutuhan harga diri meliputi:
•    Menghargai diri sendiri
•    Menghargai orang lain
•    Dihargai orang lain
•    Kebebasan yang mandiri
•    Preshies
•    Di kenal dan di akui
•    Penghargaan
E.    Kebutuhan    Aktualisasi    Diri(SelfActualization)
     Aktualisasi diri adalah kebutuhan naluriah pada manusia untuk melakukan yang terbaik dari yang dia bisa. tingkatan tertinggi dari perkembangan psikologis yang bisa dicapai bila semua kebutuhan dasar sudah dipenuhi dan pengaktualisasian seluruh potensi dirinya mulai dilakukan.
Pada saat manusia sudah memenuhi seluruh kebutuhan pada semua tingkatan yang lebih rendah , melalui aktualisasi diri di katakan bahwa mereka mencapai potensi yang paling maksimal.
Manusia yang teraktualisasi dirinya:
•    Mempunyai kepribadian multi dimensi yang matang.
•    Sering mampu mengasumsi dan menyelesaikan tugas yang banyak.
•    Mencapai pemenuhan kepuasan dari pekerjaan yang di kerjakan dengan baik.
•    Tidak tergantung secara penuh pada opini orang lain.
Sebagai contoh:
•    Saat kita mengetahui bahwa minggu depan akan ada ulangan maka kita akan belajar lebih agar mendapatkan kepuasan dalam ujian dan mendapatkan nilai baik






KESIMPULAN
Dari makalah yang saya presentasikan ini dapat diambil beberapa kesimpulan dari bab ini adalah, Konsep diri adalah semua perasaan kepercayaan dan nilai yang diketahui tentang dirinya dan memengaruhi individu dalam bersosialisasi dengan orang lain. Konsep diri berkembang secara bertahap saat bayi molai mengenal dan membedakan dirinya dengan orang lain. Dari teori Abraham Maslow pada hakikatnya bahwa manusia itu hidup dan melangsungkan kehidupannya selalu dalam lingkup 5 hal penting itu. Jika salah satu tidak terpenuhi bisa saja mereka dalam menjalankan kelangsungan kehidupannya merasa kurang. Walaupun kekurangan itu tidak semua  dapat dilihat dari fisik tapi manusia juga bisa merasakan hal yang hanya bisa dirasa oleh batinnya sendiri. Dan pada dasarnya manusia itu bukan makhluk individualis melainkan makhluk sosial yang mana kemanapun dan dimana pun dia pergi pasti dia membutuhkan orang lain.




















DAFTAR PUSTAKA
Hidayat,Musrifatul,Hidayat,A.Aziz.2008.Keterampilan Praktik Klinik Kebidanan.Jakarta:Salemba Medika
Abraham,Charles,Eamon Shanly.1992.Psikologi Sosial Untuk Perawat.Jakarta:(EGC)
Walsito,Bimo.2002.Penghantar Psikologi Umum.Yogyakarta:Andi
Sarwono,Sarlito,Wirawan.1998,Psikologi Remaja.Jakarta:Rajawali Pers
Tarwoto.2006.Kebutuhan Dasar Manusia danProses Keperawatan.Jakarta:Salemba Medika
http:///E:/KDM/PSIKOSOSIAL 3.html 
http:///E:/KDM/KOPING%20STRES.html
 http:///E:/KDM/Konsep%20Dasar%20Psikososial%20_%20RANGK.html
http:///E:/KDM/kebutuhan-dasar-manusia-psikososial.html
http://syehaceh.wordpress.com






ANEMIA IBU HAMIL

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Masa kehamilan merupakan masa dimana tubuh sangat membutuhkan asupan makan yang maksimal baik untuk jasmani maupun rohani (selalu rileks dan tidak stress). Di masa-masa ini pula, wanita hamil sangat rentan terhadap menurunnya kemampuan tubuh untuk bekerja secara maksimal. Wanita hamil biasanya sering mengeluh sering letih, kepala pusing, sesak nafas, wajah pucat dan berbagai macam keluhan lainnya. Semua keluhan tersebut merupakan indikasi bahwa wanita hamil tersebut sedang menderita anemia pada masa kehamilan.
Penyakit ini terjadi akibat rendahnya kandungan hemoglobin dalam tubuh semasa mengandung. Anemia ini secara sederhana dapat kita artikan dengan kurangnya sel-sel darah merah di dalam darah daripada biasanya.
Anemia pada kehamilan di Indonesia masih tinggi, dengan angka nasional 65% yang setiap daerah mempunyai variasi berbeda. Anemia gangguan medis yang paling umum ditemui pada masa hamil, mempengaruhi sekurang – kurangnya 20% wanita hamil. Wanita ini memiliki insiden komplikasi puerperal yang lebih tinggi, seperti infeksi, daripada wanita hamil dengan nilai hematologi normal.
Anemia menyebabkan penurunan kapasitas darah untuk membawa oksigen. Jantung berupaya mengonpensasi kondisi ini dengan meningkatkan curah jantung. Upaya ini meningkatkan kebebasan kerja jantung dan menekan fungsi ventricular. Dengan demikian, anemia yang menyertai komplikasi lain (misalnya, preeklampsia) dapat mengakibatkan jantung kongestif.
Apabila seorang wanita mengalami anemia selama hamil, kehilangan darah pada saat ia melahirkan, bahkan kalaupun minimal, tidak ditoleransi dengan baik. Ia berisiko membutuhkan transfusi darah. Sekitar 80% kasus anemia pada masa hamil merupakan anemia tipe defisiensi besi (Arias, 1993). Dua puluh persen (20%) sisanya mencakup kasus anemia herediter dan berbagai variasi anemia didapat, termasuk anemia defisiensi asam folat, anemia sel sabit dan talasemia.
B. RUMUSAN MASALAH
1. apa itu anemia dalam kehamilan?
2. Apa saja tanda dan gejala anemia dalam kehamilan?
3. Apa epidemiologi anemia dalam kehamilan?
4. Apa saja etiologi anemia dalam kehamilan?
5. Bagaiman patofisiologi anemia dalam kehamilan?
6. Berapa klasifikasi anemia dalam kehamilan?
7. Bagaimana penatalaksanaan anemia dalam kehamilan?
C. TUJUAN
a.  Tujuan Umum
Mengetahui bagaimana cara mengatasi ibu hamil dengan kasus anemia selama kehamilan sehingga dapat menekan terjadinya komplikasi lebih lanjut
b.   Tujuan Khusus
1.    Mengetahui apa itu anemia dalam kehamilan
2.    Mengetahui tanda dan gejala anemia dalam kehamilan
3.    Mengetahui epidemiologi anemia dalam kehamilan
4.    Mengetahui etiologi anemia dalam kehamilan
5.    Mengetahui patofisiologi anemia dalam kehamilan
6.    Mengetahui klasifikasi anemi dalam kehamilan
7.    Mengetahui penatalaksanaan anemia dalam kehamilan
D. MANFAAT
1.    Bagi Mahasiswa
Makalah ini diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan dan wawasan mahasiswa, sehingga dapat mengaplikasikannya dalam memberikan asuhan kebidanan.

2.    Bagi Petugas Kesehatan
Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi petugas kesehatan khususnya bidan dalam memberikan asuhan kebidanan.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN ANEMIA  DALAM KEHAMILAN
Anemia dalam kehamilan ialah kondisi ibu dengan kadar Hb < 11,00 gr% Pada trimester I dan III atau kadar Hb < 10,50 gr% pada trimester II. Karena ada perbedaan dengan kondisi wanita tidak hamil karena hemodilusi terutama terjadi pada trimester II(Sarwono P, 2002).
Anemia pada wanita hamil jika kadar hemoglobin atau darah merahnya kurang dari 10,00 gr%. Penyakit ini disebut anemia berat. Jika hemoglobin < 6,00 gr% disebut anemia gravis. Jumlah hemoglobin wanita hamil adalah 12,00-15,00 gr% dan hematokrit adalah 35,00-45,00% (Mellyna, 2005).
Anemia hamil disebut ” potential danger to matter and child (potensial membahayangkan ibu dan anak) ”, karena itulah anemia memerlukan perhatian khusus dari semua pihak yang terkait dalam pelayanan kesehatan pada lini terdepan.
Baik di negara maju maupun di negara berkembang, seseorang disebut menderita anemia bila kadar Hemoglobin (Hb) kurang dari 10 gr %, disebut anemia berat atau bila kurang dari 6 gr %, disebut anemia gravis.
Wanita tidak hamil mempunyai nilai normal hemoglobin 12 – 15 gr % dan hematokrit 35-54 %, angka – angka tersebut juga berlaku untuk wanita hamil, terutama wanita yang mendapat pengawasan selama hamil. Oleh karena itu, pemeriksaan hematokrit dan hemogloblin harus menjadi pemeriksaan darah rutin selama pengawasan antenatal. Sebaiknya pemerintahan dilakukan setiap 3 bulan atau paling sedikit 1 kali pada pemeriksaan pertama atau pada triwulan pertama dan sekali lagi pada triwulan akhir.



B.  EPIDEMIOLOGI ANEMIA
Berdasarkan data SKRT tahun 1995 dan 2001, anemia pada ibu hamil sempat mengalami penurunan dari 50,9% menjadi 40,1% (Amiruddin, 2007). Angka kejadian anemia di Indonesia semakin tinggi dikarenakan penanganan anemia dilakukan ketika ibu hamil bukan dimulai sebelum kehamilan. Berdasarkan profil kesehatan tahun 2010 didapatkan data bahwa cakupan pelayanan K4 meningkat dari 80,26% (tahun 2007) menjadi 86,04% (tahun 2008), namun cakupan pemberian tablet Fe kepada ibu hamil menurun dari 66,03% (tahun 2007) menjadi 48,14% (Depkes, 2008).
Frekuensi timbulnya anemia dalam  kehamilan tergantung pada suplementasi besi. Taylor dkk melaporkan rata-rata kadar hemoglobin sebesar 12,7 g/dl pada wanita yang mengkonsumsi suplemen besi sementara rata-rata hemoglobin sebesar 11,2 g/dl pada wanita yang tidak mengkonsumsi suplemen.
Karakter Trias Epidemiologi
1) Host
Faktor host (pejamu) dalam kasus anemia pada ibu hamil adalah ibu hamil yang terdiri dari:
a. Umur
Semakin muda umur ibu hamil, semakin berisiko untuk terjadinya anemia. Hal ini didukung oleh penelitian Adebisi dan Strayhorn (2005) di USA bahwa ibu remaja memiliki prevalensi anemia kehamilan lebih tinggi dibanding ibu berusia 20 sampai 35 tahun. Hal ini dapat dikarenakan pada remaja, Fe dibutuhkan lebih banyak karena pada masa tersebut remaja membutuhkannya untuk pertumbuhan, ditambah lagi jika hamil maka kebutuhan akan Fe lebih besar seperti yang sudah dijelaskan pada riwayat alamiah. Selain itu, faktor usia yang lebih muda dihubungkan dengan pekerjaan, status sosial ekonomi dan pendidikan yang kurang.


b. Kelompok etnik
Berdasarkan penelitian Adebisi dan Strayhorn (2005) di USA bahwa ras kulit hitam memiliki risiko anemia pada kehamilan 2 kali lipat dibanding dengan kulit putih. Hal ini juga dihubungkan dengan status sosial ekonomi
c. Keadaan Fisiologis
Keadaan fisiologis ibu hamil, peningkatan Hb tidak sebanding dengan penambahan volume plasma yang lebih besar, selain itu didukung dengan kebutuhan intake Fe yang lebih banyak untuk eritropoesis.
d.      Keadaan imunologis
Keadaan imunologis dari ibu hamil yang dapat menyebabkan anemia dihubungkan dengan proses hemolitik sel darah merah yang nantinya disebut anemia hemolitik. Hal ini juga berhubungan dengan ada maupun tidak adanya penyakit yang mendasari seperti SLE(Systemic Lupus Erythematosus) yang dapat menyebabkan hancurnya sel darah merah.
e. Kebiasaan
Kebiasaan ini meliputi kebiasaan makan pada ibu hamil, apakah intake nutrisinya adekuat atau tidak atau mengandung Fe, asam folat, vitamin B12 ataukah tidak. Selain itu, kebiasaan ibu hamil dalam memeriksakan kehamilannya di tempat pelayanan kesehatan juga mempengaruhi besar kecilnya kejadian anemia pada ibu hamil. Menurut penelitian Adebisi dan Strayhorn (2005) di USA, bahwa ibu hamil yang merokok dan minum alkohol juga mempengaruhi terjadinya anemia.
f. Sosial ekonomis
Faktor sosial ekonomi diantaranya adalah kondisi ekonomi, pekerjaan dan pendidikan. Ibu hamil dengan keluarga yang memiliki pendapatan yang rendah akan mempengaruhi kemampuan untuk menyediakan makanan yang adekuat dan pelayanan kesehatan untuk mencegah dan mengatasi kejadian anemia. Ibu hamil yang memiliki pendidikan yang kurang juga akan mempengaruhi kemampuan ibu dalam mendapatkan informasi mengenai anemia pada kehamilan.
g. Faktor kandungan dan kondisi/ riwayat kesehatan
Faktor kandungan diantaranya paritas, riwayat prematur sebelumnya, dan usia kandungan. Ibu dengan riwayat prematur sebelumnya lebih berisiko dibanding dengan ibu yang tidak memiliki riwayat tersebut. Ibu dengan primipara berisiko lebih rendah untuk terjadi anemia daripada ibu dengan multipara (Omoniyi, Stayhorn, 2005). Kondisi atau riwayat kesehatan diantaranya adalah apakah ibu hamil menderita penyakit diabetes, ginjal, hipertensi, dan penyakit kronis lainnya. Ibu hamil mempunyai riwayat penyakit kronis tersebut, semakin berisiko terjadinya anemia pada ibu hamil (Omoniyi, Stayhorn, 2005).
2) Agen atau sumber penyakit pada anemia ibu hamil diantaranya yaitu:
a. Unsur gizi
Terjadinya anemia pada ibu hamil juga dapat disebabkan karena defisiensi Fe, asam folat dan vitamin B dalam makanan. Defisiensi ini dapat terjadi karena kebutuhan Fe yang meningkat, kurangnya cadangan dan berkurangnya Fe dalam tubuh ibu hamil.
b. Kimia dari dalam dan luar
Anemia pada ibu hamil juga dapat terjadi karena berhubungan dengan kimia dan obat. Anemia tersebut dinamakan anemia aplastik. Kehamilan mengakibatkan peningkatan sintesa laktogen plasenta, eritropoetin dan estrogen. Laktogen plasenta dan eritropoetin menstimulasi hematopoesis dimana estrogen menekan sumsum tulang. Ketidakseimbangan tersebut menyebabkan hipoplasia (Choudry et al, 2002 dalam Yilmaz et al, 2007).
c. Faktor faali/ fisiologis
Faktor fisiologis ini meliputi peningkatan eritrosit dan Hb tidak sebanyak dengan peningkatan volume plasma pada kehamilan sehingga terjadi hipervolemi. Hal tersebut berisiko terjadinya anemia pada kehamilan.
3) Lingkungan
Dari ketiga faktor lingkungan (fisik, biologis dan sosial ekonomi) yang dapat mempengaruhi kejadian anemia pada ibu hamil yaitu faktor sosial ekonomi. Kondisi sosial berupa dukungan dari keluarga dan komunitas akan mempengaruhi kejadian anemia pada ibu hamil. Jika keluarga mendukung terhadap intake nutrisi yang adekuat pada ibu hamil dan memotivasi dalam memeriksakan kehamilannya secara rutin, maka kemungkinan kecil terjadi anemia.
Jika lingkungan komunitas menyediakan sarana pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan dan kader maka pelayanan kesehatan akan meningkat sehingga kejadian anemia kemungkinan kecil terjadi. Selain itu, pendidikan ibu hamil yang semakin tinggi akan mempengaruhi kemampuan dalam mendapatkan informasi. Kondisi ekonomi akan mempengaruhi kemampuan ibu hamil dan keluarga dalam menyediakan nutrisi yang adekuat dan memberikan pelayanan kesehatan yang sesuai.
C. PATOGENESA ANEMIA PADA KEHAMILAN
Riwayat alamiah penyakit merupakan gambaran tentang perjalanan perkembangan penyakit pada individu dimulai sejak terjadinya paparan dengan agen penyebab sampai terjadinya kesembuhan atau kematian tanpa terinterupsi oleh suatu intervensi preventif maupun terapeutik (CDC, 2010 dikutip Murti, 2010). Hal ini diawali dengan terjadinya interaksi antara host, agent, dan lingkungan. Perjalanan penyakit dimulai dengan terpaparnya host yang rentan (fase suseptibel) oleh agen penyebab. Sumber penyakit (agens) pada anemia ibu hamil diantaranya dapat berupa unsur gizi dan faktor fisiologis. Pada saat hamil, ibu sebagai penjamu (host).
Dari faktor faal atau fisiologis, kehamilan menyebabkan terjadinya peningkatan volume plasma sekitar 30%, eritrosit meningkat sebesar 18% dan hemoglobin bertambah 19%. Peningkatan tersebut terjadi mulai minggu ke-10 kehamilan. Berdasarkan hal tersebut dapat dilihat bahwa bertambahnya volume plasma lebih besar daripada sel darah (hipervolemia) sehingga terjadi pengenceran darah. Hemoglobin menurun pada pertengahan kehamilan dan meningkat kembali pada akhir kehamilan.
Namun, pada trimester 3 zat besi dibutuhkan janin untuk pertumbuhan dan perkembangan janin serta persediaan setelah lahir. Hal inilah yang menyebabkan ibu hamil lebih mudah terpapar oleh agen sehingga berisiko terjadinya anemia. Sedangkan, dari unsur gizi ibu hamil dihubungkan dengan kebutuhan akan zat besi (Fe), asam folat, dan vitamin B12. Keluhan mual muntah pada ibu hamil trimester 1 dapat mengurangi ketersediaan zat besi pada tubuh ibu hamil. Dan kebutuhan zat besi pada ibu hamil trimester 3 untuk pertumbuhan dan perkembangan janin juga membuat kebutuhan zat besi pada ibu hamil semakin besar. Padahal, zat besi dibutuhkan untuk meningkatkan sintesis hemoglobin.
Jika fase suseptibel di atas tidak tertangani, maka akan terjadi proses induksi menuju fase subklinis (masa laten) dan kemudian fase klinis dimana mulai muncul tanda dan gejala anemia seperti cepat lelah, sering pusing, malaise, anoreksia, nausea dan vomiting yang lebih hebat, kelemahan, palpitasi, pucat pada kulit dan mukosa, takikardi dan bahkan hipotensi. Selama tahap klinis, manifestasi klinis akan menjadi hasil akhir apakah mengalami kesembuhan, kecacatan, atau kematian (Rohtman, 2002 dalam Murti,2010). Misalnya jika terjadi pada trimester I akan mengakibatkan abortus dan kelainan kongenital, pada trimester II dapat mengakibatkan persalinan prematur, perdarahan antepartum, gangguan pertumbuhan janin, asfiksia, BBLR, mudah terkena infeksi dan bahkan kematian. Sedangkan pada trimester III akan menimbulkan gangguan his, janin lahir dengan anemia, persalinan tidak spontan .
Periode Prepathogenesis dan Pathogenesis
Tahap prepathogenesis adalah tahap sebelum terjadinya penyakit. Sehingga, tahap ini terdiri dari fase suseptibel dan subklinis (asimtomatis). Pada tahap ini, secara patofisiologis anemia terjadi pada kehamilan karena terjadi perubahan hematologi atau sirkulasi yang meningkat terhadap plasenta. Hal ini berhubungan dengan meningkatnya volume plasma tetapi tidak sebanding dengan penambahan sel darah dan hemoglobin. Selain itu, dapat disebabkan kebutuhan zat besi yang meningkat serta kurangnya cadangan zat besi dan intake zat besi dalam makanan. Zat besi diperlukan untuk eritropoesis (Atmarita, 2004 dalam Amiruddin et al, 2007).
Jika total zat besi dalam tubuh menurun akibat cadangan dan intake zat besi yang menurun, maka akan terjadi penurunan zat besi pada hepatosit dan makrofag hati, limpa dan sumsum tulang belakang. Setelah cadangan habis, akan terjadi penurunan kadar Fe dalam plasma padahal suplai Fe pada sumsum tulang untuk pembentukan hemoglobin menurun. Hal ini mengakibatkan terjadinya peningkatan eritrosit tetapi mikrositik sehingga terjadi penurunan kadar hemoglobin (Choudry et al, 2002 dalam Yilmaz et al, 2007). Anemia pada kehamilan tersebut dinamakan anemia defisiensi besi. Klasifikasi anemia dalam kehamilan lainnya diantaranya adalah anemia megaloblastik, anemia hipoplastik dan anemia hemolitik.
Anemia megaloblastik termasuk dalam anemia makrositik dimana anemia terjadi karena kekurangan asam folat dan atau vitamin B12. Anemia hemolitik adalah anemia yang disebabkan karena penghancuran eritrosit yang lebih cepat dari pembuatannya akibat kehilangan darah akut/ kronis (Basu, 2010).
Jika sebab-sebab di atas terjadi pada ibu hamil secara beriringan maka akan menimbulkan manifestasi klinis anemia. Pada saat tanda dan gejala tersebut muncul, tahap inilah yang disebut dengan tahap awal pathogenesis. Tahap ini berakhir sampai fase kesembuhan, kecacatan atau kematian.
Kemudian tahap patogenesis berakhir pada kesembuhan, kecacatan dan bahkan kematian. Jika timbul kesakitan atau kecacatan dapat berdampak pada kehamilannya, janinnya, persalinannya dan bayi nantinya.
Perubahan hematologi sehubungan dengan kehamilan adalah oleh karena perubahan sirkulasi yang makin meningkat terhadap plasenta dari pertumbuhan payudara. Volume plasma meningkat 45-65% dimulai pada trimester ke II kehamilan,dan maksimum terjadi pada bulan ke 9 dan meningkatnya sekitar 1000 ml, menurunsedikit menjelang aterem serta kembali normal 3 bulan setelah partus. Stimulasi yang meningkatkan volume plasma seperti laktogen plasenta, yang menyebabkan peningkatan sekresi aldesteron.
D. PENCEGAHAN DAN PERAN PERAWAT DALAM PENCEGAHAN
Anemia dapat dicegah dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbangdengan asupan zat besi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Zat besi dapatdiperoleh dengan cara mengonsumsi daging (terutama daging merah) seperti sapi. Zat besi juga dapat ditemukan pada sayuran berwarna hijau gelap seperti bayam dan kangkung, buncis, kacang polong, serta kacang-kacangan. Perlu diperhatikan bahwa zat besi yang terdapat pada daging lebih mudah diserap tubuh daripada zat besi pada sayuran atau pada makanan olahan seperti sereal yang diperkuat dengan zat besi. Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan pemberian suplemen Fe dosis rendah 30 mg pada trimester ketiga ibu hamil non anemik(Hb lebih/=11g/dl), sedangkan  untuk ibu hamil dengan anemia defisiensi besi dapat diberikan suplemen Fe sulfat 325 mg 60-65 mg, 1-2 kali sehari. Untuk yang disebabkan oleh defisiensiasam folat dapat diberikan asam folat 1 mg/hari atau untuk dosis pencegahan dapatdiberikan 0,4 mg/hari. Dan bisa juga diberi vitamin B12 100-200 mcg/hari
Peran bidan dapat masuk dalam tahap pencegahan. Dimana tahap pencegahan tediri dari tiga(3) yaitu :
1. Pencegahan Primer
Pencegahan primer dilakukan pada fase prepathogenesis yaitu pada tahap suseptibel dan induksi penyakit sebelum dimulainya perubahan patologis. Tujuan pencegahan ini untuk mencegah atau menunda terjadinya kasus baru penyakit dan memodifikasi faktor risiko atau mencegah berkembangnya faktor risiko (AHA Task Force, 1998 dalam Murti 2010).
Pada pencegahan dalam anemia ibu hamil ini, bidan komunitas dapat berperan sebagai edukator seperti memberikan nutrition education berupa asupan bahan makanan yang tinggi Fe dan konsumsi tablet besi atau tablet tambah darah selama 90 hari. Edukasi tidak hanya diberikan pada saat ibu hamil, tetapi ketika belum hamil. Penanggulangannya, dimulai jauh sebelum peristiwa melahirkan (Junadi, 2007). Selain itu, bidan juga dapat berperan sebagai konselor atau sebagai sumber berkonsultasi bagi ibu hamil mengenai cara mencegah anemia pada kehamilan.
Selain itu, sebagai fasilitator bidan dapat mengaktifkan kader dan posyandu balita atau pembentukan posyandu (jika belum ada) sebagai tenaga, sarana dan tempat dalam mempromosikan kesehatan. Bidan juga dapat menjadi motivator bagi ibu hamil untuk memeriksakan kehamilannya secara rutin di tempat pelayanan kesehatan terdekat dan memotivasi keluarga ibu hamil untuk selalu mendukung perawatan yang dilakukan pada ibu hamil untuk mencegah terjadinya anemia.
2. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder merupakan pencegahan yang dilakukan pada tahap pathogenesis yaitu mulai pada fase asimtomatis sampai fase klinis atau timbulnya gejala penyakit atau gangguan kesehatan. Pada pencegahan sekunder, yang dapat dilakukan oleh bidan komunitas diantaranya adalah sebagai care giver diantaranya melakukan skirinning (early detection) seperti pemeriksaan hemoglobin (Hb) untuk mendeteksi apakah ibu hamil anemia atau tidak, jika anemia, apakah ibu hamil masuk dalam anemia ringan, sedang, atau berat. Selain itu, juga dilakukan pemeriksaan terhadap tanda dan gejala yang mendukung seperti tekanan darah, nadi dan melakukan anamnesa berkaitan dengan hal tersebut. Sehingga, bidan dapat memberikan tindakan yang sesuai dengan hasil tersebut.
Dalam hal ini, bidan dapat berperan juga sebagai penemu kasus, peneliti, konselor, edukator, motivator, fasilitator dan kolaborator. Sebagai penemu kasus dan peneliti, bidan dapat menggambarkan dan melaporkan kejadian anemia pada ibu hamil di suatu daerah, sehingga datanya bermanfaat untuk dinas terkait dalam rangka penanganan terhadap kejadian anemia tersebut. Jika ibu hamil terkena anemia, maka bidan sebagai care giver dan kolaborator dapat memberikan terapi oral berupa Fe dan memberikan rujukan kepada ibu hamil ke rumah sakit untuk diberikan transfusi (jika anemia berat).
Bidan dapat memberikan pengarahan dan motivasi kepada ibu hamil dan keluarganya supaya tidak berlanjut pada komplikasi yang tidak diinginkan pada ibu dan janin. Bidan juga dapat memotivasi kader untuk dapat membantu mendeteksi adanya anemia pada ibu hamil di wilayahnya.
3.Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier dilakukan untuk mencegah perkembangan penyakit ke arah yang lebih buruk untuk memperbaiki kualitas hidup klien seperti untuk mengurangi atau mencegah terjadinya kerusakan jaringan, keparahan dan komplikasi penyakit, mencegah serangan ulang dan memperpanjang hidup.
Contoh pencegahan tersier pada anemia ibu hamil diantaranya yaitu mempertahankan kadar hemoglobin tetap dalam batas normal, memeriksa ulang secara teratur kadar hemoglobin, mengeliminasi faktor risiko seperti intake nutrisi yang tidak adekuat pada ibu hamil, tetap mengkonsumsi tablet Fe selama kehamilan dan tetap mengkonsumsi makanan yang adekuat setelah persalinan. Dalam hal ini, bidan dapat berperan sebagai care giver, edukator, konselor, motivator, kolaborator, dan fasilitator.
E. GEJALA ANEMIA DALAM KEHAMILAN
a.    Ibu mengeluh cepat lelah, Sering pusing, Mata berkunang-kunang,
b.    Nafsu makan turun (anoreksia), mual, muntah
c.    Konsentrasi hilang,
d.    Nafas pendek (pada anemia parah)
e.    Keluhan mual muntah lebih hebat pada hamil muda.
f.    Keletihan,  malaise, atau mudah megantuk
g.    Pusing atau kelemahan
h.    Sakit kepala
i.    Lesi pada mulut dan lidah
j.    Kulit pucat
k.    Mukosa membrane atau kunjung tiva pucat
l.    Dasar kuku pucat
m.    Takikardi
n.    perubahan jaringan epitel kuku, gangguan sistem neurumuskular
o.    disphagia dan pembesaran kelenjar limpa.
F. ETIOLOGI ANEMIA DALAM KEHAMILAN
Penyebab anemia pada umumnya adalah sebagai berikut :
a.    Kurang gizi (malnutrisi) seperti zat besi, asam folat, dan B12
b.    Kemampuan perombakan sel darah merah yang terlalu cepat
c.    Malabsorpsi
d.    Kehilangan darah banyak seperti persalinan yang lalu, haid dan lain-lain
e.    Penyakit-penyakit kronik seperti TBC paru, cacing usus, malaria,
G. DIAGNOSA ANEMIA KEHAMILAN
Penegakan DX pada kehamilan dapat dilakukan dengan anamnesa, pada anamnesa akan didapatkan keluhan cepat lelah, sering pusing–pusing, mata berkunang –kunang, dan muntah lebih sering dan hebat pada kehamilan muda.
Pada pemeriksaan umum didapatkan tekanan daran ibu rendah jumlah plasma darah lebih banyak dari eritrosit sehingga darah ibu lebih encer. Nadi ibu cepat karena kerja jantung lebih meningkat untuk membawa makanan dan oksigen keseluruh tubuh serta transportasi ke dalam rahim
Pada pemeriksaan inspeksi, diperoleh data kalau konjungtiva ibu pucat, telapak tangan pucat, bagian pinggir bibir pucat, karena darah ibu tidak mencukupi sampai kebagia-bagian ujung tubuh ibu. Ibu juga terlihat lemah, letih, lesu, karena kurangnya nutrisi untuk beraktivitas.
Sedangkan pemeriksaan HB dan pengawasan HB dapat dilakukan secara sederhana dengan menggunakan alat Hb sahli. Hasil pemeriksaan HB dengan dengan sahli dapat digolongkan sebagai berikut :
a.    HB 11 gr % Tidak anemia
b.    9 – 10 gr % Anemia ringan
c.    7 – 8 gr % Anemia sedang
d.    < 7 gr % Anemia berat
H. JENIS-JENIS ANEMIA
Banyak faktor – faktor yang mempengaruhi pembentukan darah adalah sebagai berikut :
1.    komponen (bahan) yang berasal dari makanan
a.    Protein, glukosa, lemak
b.    Vitamin B12, asam falat, Vit C
c.    Elemen dasar : Fe, Ion Cu, Zink
2.    Sum-sum tulang
3.     Kemampuan reabsorpsi usus terhadap bahan yang diperlukan
4.     Umur sel darah merah (eritrosit) terbatas sekitar 120 hari. Sel – sel darah merah yang sudah tua dihancurkan kembali menjadi bahan baku untuk membentuk sel darah yang baru.
5.    Terjadinya perdarahan yang kronik (menahun)
a.    Menstruasi
b.    Penyakit yang menyebabkan perdarahan pada wanita seperti mioma uteri,
Polip Serviks, penyakit darah.
Berdasarkan atas faktor – faktor diatas maka anemia dapat digolongkan menjadi :
1. Anemia Zat Besi (kejadian 62,30%)
Anemia dalam kehamilan yang paling sering ialah anemia akibat kekurangan zat besi. Kekurangan ini disebabkan karena kurang masuknya unsur zat besi dalam makanan, gangguan reabsorbsi, dan penggunaan terlalu banyaknya zat besi.
Morfologi terdiri dari SDM hipokrom mikrositik. Zat besi serum menurun dan kapasitas pengikat zat besi meningkat. Merupakan anemia yang paling sering dijumpai pada kehamilan. Hal ini disebabkan oleh kurang masuknya unsur besi dalam makanan, karena gangguan resorpsi, ganguan penggunaan atau karena terlampaui banyaknya besi keluar dari badan, misalnya pada perdarahan. Keperluan besi bertambah dalam kehamilan terutama pada trimester terakhir. Keperluan zat besi untuk wanita hamil 17 mg
2. Anemia Megaloblastik (kejadian 29,00%)
Anemia megaloblastik adalah penyakit yang ditandai dengan penurunan jumlah SDM (sel darah merah) dan hipokrom makrositik Anemia megaloblastik dalam kehamilan disebabkan karena defisiensi asam folat. Umumnya terkait dengan anemia defisiensi zat besi. Jarang dijumpai kasus anemia megaloblastik saja
3. Anemia Hipoplastik (kejadian 80,00%)
Anemia pada wanita hamil yang disebabkan karena sumsum tulang kurang mampu membuat sel-sel darah merah. Dimana etiologinya belum diketahui dengan pasti kecuali sepsis, sinar rontgen, racun dan obat-obatan.
4. Anemia Hemolitik (kejadian 0,70%)
Anemia yang disebabkan karena penghancuran sel darah merah berlangsung lebih cepat, yaitu penyakit malaria.
Suatu defek enzimatik yang terkait-kromosom X dan diturunkan, yang ditandai dengan ketidak mampuan tubuh memproduksi enzim G6PD, yaitu enzim yang berfungsi sebagai katalis penggunaan glukosa secara aerob oleh SDM. Anemia ini dapat ditemukan pada keturunan Afrika-Amerika, Asia, dan Mediterania. Kejadiannya Dua persen dari semua  wanita keturunan Afrika-Amerika menderita penyakit ini.
penyebabnya Infeksi dan beberapa obat oksidik pada kondisi defisiensi G6PD akan memicu hemolisis SDM yang megakibatkan anemia hemolitik ringan sampai berat.
5. Anemia Pernisiosa
Anemia pernisiosa disebabkan kekurangan faktor intrinsik pada asam lambung, yang diperlukan untuk absorbsi vitamin B12 dari makanan . karena B12 tidak dapat diabsorbsi, SDM tidak matang dengan normal.  Kasus ini jarang dijumpai pada individu dibawah usia 35 tahun.
6. Anemia Sel Sabit
Pada sifat (trait) sel sabit, ada satu gen normal dan satu gen Hb-S. gejala tidak tampak kecuali pada keadaan deprivasi oksigen berat. Pada penyakit sel sabit, kedua gen adalah Hb-S. penyakit ini kronik dan melemahkan. Angka morbiditas dan mortalitas penyakit ini tinggi. Kejadiannya Satu dari 12 keturunan Afrika-Amerika membawa sifat sel sabit. Satu dari 500 keturuna Afrika-Amerika menderita penyakit ini.
I. PENGARUH ANEMIA PADA KEHAMILAN DAN JANIN.
a. Bahaya selama kehamilan
1.    Persalinan Prematur
2.    Mudah terjadinya Infeksi
3.    Ancaman Dekompensasi Cordis (jika HB < 6 gr)
4.    Hiperemesis Gravidarum
5.    Perdarahan Antepartum
6.    KPD ( Ketuban Pecah Dini )
b.    Bahaya saat persalinan
1.    Gangguan his kekuatan mengejan
2.    Pada kala I dapat berlangsung lama dan terjadi partus terlantar
3.    Pada kala II berlangsung lama sehingga dapat melelahkan
dan sering memerlukan tindakan dan operasi kebidanan.
4.    Pada kala III (Uri) dapat diikuti Retencio Placenta, PPH
karena Atonnia Uteri.
5.    Pada kala IV dapat terjadi pendarahan Post Partum Sekunder
dan Atonia Uteri
c. Bahaya pada saat Nifas
1.    Terjadi Subinvolusi Uteri yang dapat menimbulkan perdarahan
2.    Memudahkan infeksi Puerpurium
3.    Berkurangnya pengeluaran ASI
4.    Dapat terjadi DC mendadak setelah bersalin
5.    Memudahkan terjadi Infeksi mamae
d. Pengaruh Anemia Terhadap Janin
Meskipun janin mampu menyerap berbagai kebutuhan dari Ibunya tetapi jika anemia akan mengurangi kemampuan metabolisme tubuh sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim. Pengaruh – pengaruhnya terhadap janin diantaranya :
1.    Abortus
2.    Kematian Interauterin
3.    Persalinan Prematuritas tinggi
4.    BBLR
5.    Kelahiran dengan anemia
6.    Terjadi cacat kongenital
7.    Bayi mudah terjadi Infeksi sampai pada kematian
8.    Intelegensi yang rendah
9.    Kekurangan energi dalam asupan makanan yang dikonsumsi menyebabkan tidak tercapainya penambahan berat badan ideal dari ibu hamil yaitu sekitar 11 - 14kg. Kekurangan itu akan diambil dari persediaan protein yang dipecah menjadienergi

J. KEBUTUHAN ZAT BESI PADA WANITA HAMIL
Wanita memerlukan zat besi lebih tinggi dari pada laki – laki karena terjadi menstruasi dengan perdarahan sebanyak kurang lebih 50 cc – 80 cc setiap bulan pada wanita dan kehamilan, zat besi yang berkurang sebesar 30 – 40 mg. Pada saat kehamilan memerlukan tambahan zat besi untuk menambahkan sel darah merah dan membentuk sel darah merah pada janin dan placenta. Semakin sering wanita hamil dan melahirkan maka akan semakin banyak wanita itu kehilangan zat besi dan menjadi semakin anemis.
Gambaran banyaknya kebutuhan zat besi setiap kehamilan :
a.    Meningkatkan sel darah Ibu 500 mg Fe
b.    Terdapat dalam placenta 300 mg Fe
c.    Untuk darah janin 100 mg Fe + Jumlah 900 mg Fe
Jika persediaan Fe minimal, maka disetiap kehamilan akan menguras Fe dan akhirnya menimbulkan anemia pada kehamilan berikutnya. Pada setiap kehamilan relatif mengalami anemia dikarenakan darah Ibu mengalami Hemodilusi (pengenceran) dan meningkatkan volume 38 % - 40 % yang puncaknya pada kehamilan 32 – 34 minggu. Jumlah pertambahan sel darah 18 % - 30 % dan HB sekitar 19 %. Bila HB sebelum hamil sekitar 11 gr maka dengan terjadinya Hemodilusi akan mengakibatkan anemia fisiologi, dan HB Ibu akan turun menjadi kurang lebih 9,5 – 10 gr %.
Setelah persalinan dengan lahirnya Bayi dan placenta maka akan kehilangan zat besi kurang lebih 900 mg dari perdarahan yang dialami Ibu saat persalinan. Saat laktasi Ibu memerlukan kesehatan jasmani yang optimal sehingga dapat menyiapkan ASI unntuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. Dalam keadaan anemia laktasi tidak dapat terlaksana dengan baik maka dari itu sbisa mungkin ibu tidak anemis.
K. PENGOBATAN ANEMIA
1. Anemiadefisiensi Zat Besi
Penatalaksaan :
a. Skrining rutin
1.    Pada kunjungan awal, tanyakan tentang riwayat anemia atau masalah pembekuan darah sebelumnya.
2.    Minta hitung darah lengkap pada kunjungaan awal.
3.    Diskusikan pentingnya mengonsumsi vitamin prenatal (disertai zat besi).
4.    Periksa ulang Ht pada 28 minggu kehamilan.
b.Terapi anemia:
1.    Terapi oral ialah dengan pemberian : fero sulfat, fero gluconat, atau Na-fero bisitrat.
2.    Bila Hb <10 g/dl dan Ht <30%, lakukan tindakan berikut:
a)    Berikan konseling gizi.
1.    Tinjau diet pasien.
2.    Diskusikan sumber-sumber zat besi dalam diet.
3.    Berikan pasien selebaran mengenai makanan tinggi zat besi.
4.    Rujuk ke ahli gizi.
b)   Sarankan suplemen zat besi sebagai tambahan vitamin paranatal. Kebutuhan zat besi saat kehamilan adalah 60 mg unsure zat besi.
1.    Tablet zat besi time-release merupaka pilihan terbaik, namun lebih mahal. Setiap sediaan garam zat besi standar sudah mencukupi kebutuhan zat besi.
2.    Minum 1-3 tablet per hari dalam dosis yang terbagi.
3.    Zat besi diabsorbsi lebih baik pada keadaan lambung kosong. Minum 1 jam sebelum makan atau 2 jam sesudahnya.
4.    Vitamin C membantu absorbs zat besi. Minum zat besi disertai jus yang tinggi vitamin C atau tablet vitamin C.
5.    Antasid dan produk susu dapat mengganggu absorbs zat bes
6.    Lebih baik mengkonsumsi zat besi bersama antasid atau makanan daripada tidak mengkonsumsi sama sekali.
c) Bila Hb <9 g/dl dan Ht <27% pertimbangkan anemia megaloblastik.
Kelola pasien ini menurut panduan terapi anemia.
1.    Bila kadar Hb <9 g/dl dan Ht ≤27% saat mulai persalinan, pertimbangkan pemberian cairan IV atau heparin lock saat persalinan.
2.    Pemberian preparat 60 mg/hari dapat menaikkan kadar Hb sebanyak 1 g%/bulan. Efek samping pada traktus gastrointestinal relatif kecil pada pemberian preparat Na-fero bisitrat dibandingkan dengan ferosulfat.
3.    Kini program nasional mengajukan kombinasi 60 mg besi dan 50µg asam folat untuk profilaksis anemia.
4.    Pemberian preparat parenteral yaitu dengan ferum dextran sebanyak 1000 mg (20 ml) intravena atau 2 x 10 ml/im pada gluteus, dapat meningkatkan Hb relatif lebih cepat yaitu 2 g%. Pemberian parenteral ini mempunyai indikasi : intoleransi besi pada gastrointestinal, anemia yang berat, dan kepatuhan yang buruk. Efek samping utama ialah reaksi alergi, untuk mengetahuinya dapat diberikan dosis 0,5 cc/im dan bila tak ada reaksi, dapat diberikan seluruh dosis.
2. Anemia Megaloblastik.
Penatalaksanaan
a) Suplemen
1.    Vitamin prenatal yang mengandung asam folat dan zat besi
2.    Satu sampai dua milligram asam folat per hari untuk memperbaiki defisiens asam folat.
3.    Suplemen zat besi, dengan pertimbangan bahwa anemia megaloblastik jarang terjadi tanpa anemia defisiensi zat besi.
b) Konseling gizi
1.    Kaji diet pasien
2.    Rekomendasikan sumber-sumber asam folat dalam diet
3.    Rujuk ke ahli gizi
c) Hitung darah lengkap
1.    Ulangi hitung darah lengkap dalam 1 bulan.
2.    Perhatikan adanya peningkatan hitung retikulosit sebesar 3-4% dalam 2-3 minggu, dan sedikit peningkatan pada hitung Hb dan Ht.
3. Anemia hemolitik didapat (acquired hemolytic anemia)
Penatalaksanaan
a) Skrining: Pasien keturunan Afrika-Amerika yang mengalami anemia atau kerap mengalami infeksi saluran kemih (ISK) berulang harus menjalani skrining G6PD.
b)  Terapi
1.    Resepkan 1 mg asam folat setiap hari.
2.    Berikan daftar obat-obatan yang perlu dihindari.
3.    Bila pasien hamil, lakukan kultur dan sensitivitas (culture and sensitivity, C&S) urine bulanan.
4.    Konsultasikan dengan dokter bila pasien dalam keadaan krisis atau mengalami anemia berat.
4. Anemia: Pernisiosa
Penatalaksanaan
a) Kaji diet pasien terhadap produk hewani. Bila asupan dietnya kurang sumber-sumber vitamin B12 berikan konseling gizi.
b)    Berikan 1 cc (1000 ng) vitamin B12 parenteral per IM setiap bulan.
c)      Tawarkan rujukan ke ahli gizi.
d)     Ulangi hitung sel darah lengkap dalam 1 bulan.
1.    Kondisinya membaik bila
2.    Morfologi normal
3.    Kadar Ht meningkat
4.    Bila tidak ada perubahan, konsultasikan ke dokter.
5. Anemia Sel Sabit
Penatalaksanaan
a. Programkan skrining sel sabit pada semua pasien Afrika-Amerika:
1.    Bila uji negatif, kedua gen normal dan tidak ada masalah.
2.    Bila uji positif, minta pemeriksaan elektroforesis hemoglobin.
3.    Bila gen homozigot,pasien dianggap beresiko tinggi dan harus dirujuk ke dokter.
4.    Bila gen heterozigot, pasien dianggap beresiko rendah dapat dikelola secara normal selama kehamilan dan persalinan.
b. Pertimbangkan kultur dan sensitivitas urine bulanan karena peningkatan resiko ISK selama kehamilan.
c. Beri konseling kepada pasien:
1.    Jelaskan kepada pasien mengenai sifat sel sabit yang dibawanya.
2.    Sarankan pemeriksaan ayah bayi. Bila gen ayah juga heterozigot, ada kemungkinan bayinya menderita penyakit ini.
3.    Rujuk pasien untuk konseling genetik bila perlu.














BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
            Sebagian besar perempuan mengalami anemia selama kehamilan, baik di negara maju maupun di negara berkembang. Di Indonesia, anemia  defisiensi besi sekitar 62,3%,Anemia jenis ini berbentuk normositik dan hipokromik di sebabkan oleh kurang gizi (malnutrisi), kurang zat besi dalam diet, malabsorpsi, kehilangan darah yang banyak (persalinan yang lalu, haid, dll).
B. SARAN
            Oleh karena itu sebaiknya pada semua wanita Usia Subur ,agar di berikan peyuluhan tentang cara mencegah anemia. Khususnya ibu hamil untuk mencegah terjadinya komplikasi karena anemia. Dalam studi kasus ini tidak di temukan adanya kesenjangan antara teori dan praktik. 















DAFTAR PUSTAKA
Prawirohardjo. S. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Bina Pustaka sarwono prawirohardjo, 2008.
Prawirohardjo. S. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Bina Pustaka sarwono prawirohardjo, 2005.
Morgan Geri, dkk. 2009. Obstetri dan Ginekologi Pansuan Praktik. Jakarta: EGC.
http://ASKEB/-anemia-askeb.html
http://ASKEB/Anemia-Pada-Ibu-Hamil.html




SOLUSIO PLASENTA

E.  SOLUSIO PLASENTA
1. Definisi
Solusio plasenta adalah lepasnya plasenta dari tempat melekatnya yang normal pada uterus sebelum janin dilahirkan. (Winkjosastro,2002)
Solusio plasenta adalah suatu keadaan dimana plasenta yang letaknya normal terlepas dari perlekatannya sebelum janin lahir. Biasanya dihitung sejak kehamilan 28 minggu. (Mochtar,1998)
Menurut Manuaba,1998. Batasan solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta sebelum waktunya dengan implantasi normal pada kehamilan trimester III. Angka kejadian 1 : 80 persalinan ; Solusio plasenta berat angka kejadian = 1 : 500 – 750 persalinan
Terdapat 2 jenis perdarahan yang terjadi :
1.    Jenis perdarahan tersembunyi (concealed) : 20%
2.    Jenis perdarahan keluar (revealed) : 80%
Pada jenis tersembunyi, perdarahan terperangkap dalam cavum uteri [hematoma retroplasenta] dan seluruh bagian plasenta dapat terlepas, komplikasi yang diakibatkan biasanya sangat berat dan 10% disertai dengan Disseminated Intravascular Coagulation.Pada jenis terbuka, darah keluar dari ostium uteri, umumnya hanya sebagian dari plasenta yang terlepas dan komplikasi yang diakibatkan umumnya tidak berat.
Kadang-kadang, plasenta tidak lepas semua namun darah yang keluar terperangkap dibalik selaput ketuban (relativelly concealed) 30% perdarahan antepartum disebabkan oleh solusio plasenta.
2.    Etiologi Solusio Plasnta
Penyebab utama tidak jelas.Terdapat beberapa faktor resiko antara lain
•    Peningkatan usia dan paritas
•    Preeklampsia
•    Hipertensi kronis
•    KPD preterm
•    Kehamilan kembar
•    Hidramnion
•    Merokok
•    Pencandu alcohol
•    Trombofilia
•    Pengguna cocain
•    Riwayat solusio plasenta
•    Mioma uteri
Faktor pencetus :
1.    Versi luar atau versi dalam
2.    Kecelakaan
3.    Trauma abdomen
4.    Amniotomi ( dekompresi mendadak )
5.    Lilitan talipusat - Tali pusat pendek
3.    Patofisiologi Solusio Plasenta
Solusio plasenta diawali dengan terjadinya perdarahan kedalam desidua basalis. Desidua terkelupas dan tersisa sebuah lapisan tipis yang melekat pada miometrium.Hematoma pada desidua akan menyebabkan separasi dan plasenta tertekan oleh hematoma desidua yang terjadi.
Pada awalnya kejadian ini tak memberikan gejala apapun. Namun beberapa saat kemudian, arteri spiralis desidua pecah sehingga menyebabkan terjadinya hematoma retroplasenta yang menjadi semakin bertambah luas. Daerah plasenta yang terkelupas menjadi semakin luas sampai mendekati tepi plasenta.
Oleh karena didalam uterus masih terdapat produk konsepsi maka uterus tak mampu berkontraksi untuk menekan pembuluh yang pecah tersebut. Darah dapat merembes ke pinggiran membran dan keluar dari uterus maka terjadilah perdarahan yang keluar ( revealed hemorrhage)
Perdarahan tersembunyi ( concealed hemorrhage)
1.    Terjadi efusi darah dibelakang plasenta dengan tepi yang masih utuh
2.    Plasenta dapat terlepas secara keseluruhan sementara selaput ketuban masih menempel dengan baik pada dinding uterus
3.    Darah dapat mencapai cavum uteri bila terdapat robekan selaput ketuban
4.    Kepala janin umumnya sangat menekan SBR sehingga darah sulit keluar
5.    Bekuan darah dapat masuk kedalam miometrium sehingga menyebabkan uterus couvellair
4.    Gambaran Klinis
1.    Solusio plasenta ringan
Solusio plasenta ringan ini disebut juga ruptura sinus marginalis, dimana terdapat pelepasan sebagian kecil plasenta yang tidak berdarah banyak. Apabila terjadi perdarahan pervaginam, warnanya akan kehitam-hitaman dan sedikit sakit. Perut terasa agak sakit, atau terasa agak tegang yang sifatnya terus menerus. Walaupun demikian, bagian-bagian janin masih mudah diraba. Uterus yang agak tegang ini harus selalu diawasi, karena dapat saja menjadi semakin tegang karena perdarahan yang berlangsung.
2.    Solusio plasenta sedang
Dalam hal ini plasenta terlepas lebih dari 1/4  bagian, tetapi belum 2/3 luas permukaan Tanda dan gejala dapat timbul perlahan-lahan seperti solusio plasenta ringan, tetapi dapat juga secara mendadak dengan gejala sakit perut terus menerus, yang tidak lama kemudian disusul dengan perdarahan pervaginam. Walaupun perdarahan pervaginam dapat sedikit, tetapi perdarahan sebenarnya mungkin telah mencapai 1000 ml. Ibu mungkin telah jatuh ke dalam syok, demikian pula janinnya yang jika masih hidup mungkin telah berada dalam keadaan gawat. Dinding uterus teraba tegang terus-menerus dan nyeri tekan sehingga bagian-bagian janin sukar untuk diraba. Jika janin masih hidup, bunyi jantung sukar didengar. Kelainan pembekuan darah dan kelainan ginjal mungkin telah terjadi,walaupun hal tersebut lebih sering terjadi pada solusio plasenta berat
3.    Solusio plasenta berat
Plasenta telah terlepas lebih dari 2/3 permukaannnya. Terjadi sangat tiba-tiba. Biasanya ibu telah jatuh dalam keadaan syok dan janinnya telah meninggal. Uterus sangat tegang seperti papan dan sangat nyeri. Perdarahan pervaginam tampak tidak sesuai dengan keadaan syok ibu, terkadang perdarahan pervaginam mungkin saja belum sempat terjadi. Pada keadaan-keadaan di atas besar kemungkinan telah terjadi kelainan pada pembekuan darah dan kelainan/gangguan fungsi ginjal



5. Komplikasi
a. Syok perdarahan.
Pendarahan antepartum dan intrapartum pada solusio plasenta hampir tidak dapat dicegah, kecuali dengan menyelesaikan persalinan segera.Bila persalinan telah diselesaikan, penderita belum bebas dari perdarahan postpartum karena kontraksi uterus yang tidak kuat untuk menghentikan perdarahan pada kala III . Pada solusio plasenta berat keadaan syok sering tidak sesuai dengan jumlah perdarahan yang terlihat
b. Gagal ginjal
Gagal ginjal merupakan komplikasi yang sering terjadi pada penderita solusio plasenta, pada dasarnya disebabkan oleh keadaan hipovolemia karena perdarahan yang terjadi. Biasanya terjadi nekrosis tubuli ginjal yang mendadak, yang umumnya masih dapat ditolong dengan penanganan yang baik.
c.  Kelainan pembekuan darah
Kelainan pembekuan darah biasanya disebabkan oleh hipofibrinogenemia.
d.  Apoplexi uteroplacenta (Uterus couvelaire)
Pada solusio plasenta yang berat terjadi perdarahan dalam otot-otot rahim dan di bawah perimetrium kadang-kadang juga dalam ligamentum latum. Perdarahan ini menyebabkan gangguan kontraktilitas uterus dan warna uterus berubah menjadi biru atau ungu yang biasa disebut Uterus couvelaire.
Komplikasi yang dapat terjadi pada janin: 
Fetal distress, Gangguan pertumbuhan/perkembangan, Hipoksia, anemia, Kematian
6. Diagnosis
1.  Anamnesis
 Perasaan sakit yang tiba-tiba di perut
 Perdarahan pervaginam yang sifatnya dapat hebat dan sekonyong-konyong(non-recurrent) terdiri dari darah segar dan bekuan-bekuan darah yang berwarna kehitaman
 Pergerakan anak mulai hebat kemudian terasa pelan dan akhirnya berhenti
 Kepala terasa pusing, lemas, muntah, pucat, mata berkunang-kunang.
 Kadang ibu dapat menceritakan trauma dan faktor kausal yang lain.
2.  Inspeksi
   Pasien gelisah, sering mengerang karena kesakitan.
   Pucat, sianosis dan berkeringat dingin.
   Terlihat darah keluar pervaginam (tidak selalu).
3.Palpasi
 Tinggi fundus uteri (TFU) tidak sesuai dengan tuanya kehamilan.
 Uterus tegang dan keras seperti papan yang disebut uterus in bois (wooden uterus) baik waktu his maupun di luar his.
 Nyeri tekan di tempat plasenta terlepas.
 Bagian-bagian janin sulit dikenali, karena perut (uterus) tegang.
4.      Auskultasi
Sulit dilakukan karena uterus tegang, bila DJJ terdengar biasanya di atas 140, kemudian turun di bawah 100 dan akhirnya hilang bila plasenta yang terlepas lebih dari 1/3 bagian.
5.      Pemeriksaan dalam
   Serviks dapat telah terbuka atau masih tertutup.
   Kalau sudah terbuka maka plasenta dapat teraba menonjol dan tegang
   Apabila plasenta sudah pecah dan sudah terlepas seluruhnya, plasenta ini akan turun ke bawah dan teraba pada pemeriksaan, disebut prolapsus placenta
6.  Pemeriksaan umum
Tekanan darah semula mungkin tinggi karena pasien sebelumnya menderita penyakit vaskuler, tetapi akan turun dan pasien jatuh dalam keadaan syok. Nadi cepat dan kecil
7.  Pemeriksaan laboratorium
  Urin : Albumin (+), pada pemeriksaan sedimen dapat ditemukan silinder dan leukosit.
  Darah : Hb menurun, periksa golongan darah, lakukan cross-match test. Karena pada solusio plasenta sering terjadi kelainan pembekuan darah hipofibrinogenemia
8. Pemeriksaan plasenta.
Plasenta biasanya tampak tipis dan cekung di bagian plasenta yang terlepas (kreater) dan terdapat koagulum atau darah beku yang biasanya menempel di belakang plasenta, yang disebut hematoma retroplacenter.
9. Pemeriksaaan Ultrasonografi (USG)
Pada pemeriksaan USG yang dapat ditemukan antara lain :Terlihat daerah terlepasnya plasenta, Janin dan kandung kemih ibu, Darah, Tepian plasenta


6.    Komplikasi
Tergantung luas plasenta yang terlepas dan lamanya sulosio plasenta berlangsung komplikasi pada ibu ialah :
1. Perdarahan
2. Oliguria
3. Gagal ginjal
4. Gawat janin
5.  Apopleksia uteroplasenta(uterus couvelaire)
Bila janin dapat diselamatkan dapat terjadi komplikasi :
1.  Asfiksia
2. BBLR
7. Penatalaksanaan
Harus dilakukan dirumah sakit dengan fasilitas operasi sebelum dirujuk,anjurkan pasien tirah baring total dengan menghadap kekiri, tidak melakukan senggama, menghindari peningkatan  tekanan rongga perut. (misalnya : batuk mengedan, karna sulit BAB).
Terapi ( Kolaborasi dengan Dokter Obgyn )
1. Terapi Konservatif (ekspektatif)
a.  Resusitasi cairan:memperbaiki hipovolemi atau mengatasi syok dan anemia
b.  Darah (harus diberikan darah secepatnya untuk menghindari syok dan Anemia.
c.   Cairan : berikan cairan Nacl, RL
d.  Obat antihipertensi yg membantu pembuluh darah tetap terbuka, obat – obatan kortikosteroid (untuk antiinflamasi, mencegah retensi Na dan mempertahankan ketahanan kapiler)
2. Terapi Aktif
Prinsipnya melakukan tindakan agar anak segera dilahirkan dan perdarahan berhenti, misalnya dengan operatif obstetrik. Langkah-langkahnya :
a.  Amniotomi dan pemberian oksitosin kemudian diawasi serta pimpin partus spontan.
b.  Bila pembukaan sudah lengkap atau hampir lengkap dan kepala sudah turun sampai Hodge III – IV , maka bila janin hidup, lakukan ekstraksi vakum atau forsep, tetapi bila janin meninggal, lakukanlah embriotomi.
c.  Seksio sesarea biasanya dilakukan pada:
1)  Solusio plasenta dengan anak hidup, pembukaan kecil
2)   Solusio plasenta dengan toksemia berat, perdarahan agak banyak, tetapi pembukaan masih kecil
3)  Solusio plasenta dengan panggul sempit atau letak lintang
d.   Histerektomi dapat dipertimbangkan bila terjadi afibrinogemia dan kalau persediaan darah atau fibrinogen tidak ada atau tidak cukup.
A. Tindakan gawat darurat
Bila keadaan umum pasien menurun secara progresif atau separasi plasenta bertambah luas yang manifestasinya adalah :
•    Perdarahan bertambah banyak
•    Uterus tegang dan atau fundus uteri semakin meninggi
•    Gawat janin
maka hal tersebut menunjukkan keadaan gawat-darurat dan tindakan yang harus segera diambil adalah memasang infus dan mempersiapkan tranfusi.
B.  TERAPI EKSPEKTATIF
Pada umumnya bila berdasarkan gejala klinis sudah diduga adanya solusio plasenta maka tidak pada tempatnya untuk melakukan satu tindakan ekspektatif.
C. PERSALINAN PERVAGINAM
Indikasi persalinan pervaginam adalah bila derajat separasi tidak terlampau luas dan atau kondisi ibu dan atau anak baik dan atau persalinan akan segera berakhir.
Setelah diagnosa solusio plasenta ditegakkan maka segera lakukan amniotomi dengan tujuan untuk :
1.    Segera menurunkan tekanan intrauterin untuk menghentikan perdarahan dan mencegah komplikasi lebih lanjut (masuknya thromboplastin kedalam sirkukasi ibu yang menyebabkan DIC)
2.    Merangsang persalinan ( pada janin imature, tindakan ini tak terbukti dapat merangsang persalinan oleh karena amnion yang utuh lebih efektif dalam membuka servik)
Induksi persalinan dengan infuse oksitosin dilakukan bila amniotomi tidak segera diikuti dengan tanda-tanda persalinan.
D. SEKSIO SESAR
Indikasi seksio sesar dapat dilihat dari sisi ibu dan atau anak Tindakan seksio sesar dipilih bila persalinan diperkirakan tak akan berakhir dalam waktu singkat, misalnya kejadian solusio plasenta ditegakkan pada nulipara dengan dilatasi 3 – 4 cm.  Atas indikasi ibu maka janin mati bukan kontraindikasi untuk melakukan tindakan seksio sesar pada kasus solusio plasenta.
ASUHAN  KEBIDANAN PADA IBU HAMIL PATOLOGI
PADA NY Y G1P0Ab0 UMUR 21 TAHUN UK 37+1 MINGGU
DI BPS DWI MARYATI,S.ST
NGILIPAR GUNUNG KIDUL

No. Register            : 045 / BPS/ BUMIL
Masuk RS tanggal/jam     : 31 Januari 2013
Dirawat diruang         : -

I. PENGKAJIAN DATA, Tanggal/Pukul : 31 Januari 2013/pukul 15.00 Oleh : Bidan
A.       Biodata         Ibu                 Suami
    1.    Nama     : Ny. Y            Tn. P
    2.    Umur      : 21 tahun            25 tahun
    3.    Agama     : Islam            Islam
    4.    Suku/Bangsa     : Jawa/Indonesia        Jawa/Indonesia
    5.    Pendidikan     : SMU            SMU
    6.    Pekerjaan     : IRT                Buruh
    7.    Alamat     : Kwaru RT 1/RW 3         Kwaru RT 1/RW 3
        Gunung Kidul        Gunung Kidul

B. DATA SUBYEKTIF
    1.    Alasan kunjungan
Ibu mengatakan ingin memeriksakan kehamilanya
2.    Keluhan utama
Ibu mengatakan rasa nyeri saat dipegang pada perut bagian atas
3.    Riwayat mensturasi
Menarce     : 14 tahun         Siklus    : 28 hari
Lama        : 7 hari            Teratur    : teratur
Sifat darah    : cair             Keluhan : tidak ada
4.    Riwayat perkawinan
Status perkawinan     : sah        Menikah ke : 1
Lama         : 1 tahun     Usia menikah pertama : 20 tahun

5.    Riwayat obstetrik
Hamil ke    Persalinan    Nifas
    Tgl    UK    jns prsalinan    penolong    kompl    JK    BB    Laktasi    kompl
1    Hamil ini                           


6.    Riwayat kontrasepsi yang digunakan
No    Jenis kontrasepsi    Pasang    Lepas
        tanggal    Oleh    tempat    keluhan    Tanggal    oleh    tempat    alasan
1    Ibu mengatakan belum pernah menggunakan alat kontrasepsi
                                   

7.    Riwayat kehamilan sekarang
a.    HPM    : 6-5-2012        HPL : 13-2-2013
b.   ANC pertama umur kehamilan     : 4 minggu
c.    Kunjungan ANC
Trimester I
Frekuensi     : 2x, Tempat :bidan , Oleh : bidan
Keluhan     : tidak ada
Terapi     : vitonal f 1x1/hari, vit C 1x1/hari
Trimester II
Frekuensi     : 3x, Tempat : bidan , Oleh : bidan
Keluhan     : tidak ada
Terapi     : vitonal f 1x1/ hari, vit C 1x1/ hari
Trimester III
Frekuensi    : 1x, Tempat : bidan,Oleh : bidan
Keluhan     : rasa nyeri saat perut dipegang bagian atas
Terapi     :

d.   Imunisasi TT
TT I : 20-5-2006
    TT II: 20-6-2006         TT III : 23-9-2012   
e.    Pergeraakan janin selama 24 jam (dalam sehari )
Ibu mengatakan merasakan pergerakan janin 2x/ jam dalam sehari
8.    Riwayat kesehatan
a.    Penyakit yang pernah/sedang diderita (menular,  menurun dan menahun)
ibu mengatakan tidak pernah / tidak sedang menderita penyakit menular (TBC,hepatitis,HIV) penyakit menurun(hipertensi, asma) dan penyakit menahun (jantung, paru-paru).
b.   Penyakit yang pernah/sedanng diderita keluarga (menular, menurun dan menahun)
ibu mengatakakan keluarga tidak pernah / tidak sedang menderita penyakit menular(TBC,hepatitis,HIV) penyakit menurun(hipertensi, asma) dan penyakit menahun (jantung, paru-paru).
c.    Riwayat keturunan kembar
ibu mengatakan tidak ada riwayat keturan kembar
d.   Riwayat operasi
ibu mengatakan belum pernah operasi
e.    Riwayat alergi obat
ibu mengatakan tidak ada riwayat alergi obat
9.    Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari
a.    Pola nutrisi sebelum hamil         saat hamil
Makan    
Frekuensi     : 3x/ hari            3x/ hari
Porsi         : 1 piring            1 piring
Jenis         : nasi, lauk, sayur        nasi,sayur, lauk
Pantangan     : tidak ada            tidak ada
Keluhan     : tidak ada             tidak ada
Minum
Frekuensi     : 10x/ hari            12x/ hari
Porsi         : 1 gelas             1 gelas
Jenis         : air putih, susu, teh         nasi,sayur, lauk
Pantangan     : tidak ada             tidak ada
Keluhan     : tidak ada            tidak ada
   
b.    Pola eliminasi
BAB        
Frekuensi        : 1x/ hari           1x/hari
Konsistensi        :  lembek         lembek
Warna             :  kuning         kuning
Keluhan          :  tidak ada        tidak ada
BAK       
Frekuensi        : 5x/ hari           9x/hari
Konsistensi        :  cair            cair
Warna             :  kuning jernih    kuning jernih
Keluhan          :  tidak ada        tidak ada

c.    Pola istirahat
Tidur siang
Lama             : 2 jam / hari        2 jam / hari
Keluhan         : tidak ada        tidak ada
Tidur malam    
Lama             : 8 jam / hari         8 jam / hari
Keluhan         : tidak ada         tidak ada

d.   Personal hygiene
Mandi         : 2x/ hari        2x/ hari
Ganti pakaian     : 2x/ hari        2x/ hari
Gosok gigi     : 2x/ hari        2x/ hari
Keramas         : 4x/ minggu        4x/ minggu

e.    Pola sexsualitas
Frekuensi         : 4x/ minggu        1x/ minggu
Keluhan         : tidak ada         tidak ada

f.     Pola aktifitas (terkait kegiatan fisik, olah raga)
ibu mengatakan selalu mengkuti kegiatan senam hamil dan jalan jalan pagi

10.  Kebiasaan yang mengganggu kesehatan (merokok, minum jamu, minuman berakohol)
-ibu mengatakan tidak pernah melakukan kebiasaan yang mengganggu kesehatan seperti merokok, minum jamu, minuman berakohol
11.  Pisikososiospiritual (penerimaan ibu/suami/keluarga terhadap kehamilan, dukungan sosial, perencanaan persalinan, pemberian ASI, perawatan bayi, kegiataan ibadah, kegiataan sosial, dan persiapan keuangan ibu dan keluarga)
a.      Ibu mengatakan suami dan keluarga sangat senang dengan kehamilanya
b.      Ibu mengatakan mendapatkan dukungan sosial dari masyarakat
c.       Ibu mengatakan sudah merencanakan persalinan di RB
d.      Ibu mengatakan akan memberikan ASI esklusif pada bayinya
e.       Ibu mengatakan ingin merawatbayinya sendiri dengan keluarga
f.       Ibu  mengatakan rajin beribadah
g.      Ibu mengatakan selalu mengikuti kegiatan sosial
h.      Ibu mengatakan sudah menyiapkan keuanganya untuk bersalin
12.  Pengetahuan ibu  ( tentang kehamilan, persalinan dan laktasi )
-ibu mengatakan sudah mengetahui tentang kehamilan, persalinan,dan laktasi
13.  Lingkungan yang berpengaruh ( sekitar rumah dan hewan peliharaan)
-ibu mengatakan dilingkungan rumah tidak memelihara hewan
DATA OBYEKTIF
1.      Pemeriksaan umum
Keadaan umum    : baik
Kesadaran        : composmetis
Status emosional     : stabil
Tanda vital sign
Tekanan darah     : 110/70 mMHg    Nadi    : 81x/ menit
Pernapasan         : 21x/ menit         Suhu     : 36,5 C
Berat badan        : 51 kg            Tinggi bdn:156 cm
2.      Pemeriksaan fisik
Kepala     : mesosepal, tidak ada benjolan
Rambut     : lurus, hitam, tidak rontok, ddan tidak ketombe
    Muka     : oval, tidak pucat, tidak odem, tidak ada bekas luka
    Mata     : simetris, tidak starbismus, konjungtiva merah muda, sklera putih, tidak ada tanda-tanda infeksi
Hidung     : simetri, berlubang, tidak polip
    Mulut     : lembab, tidak pecah-pecah, gusi tidak epulis, tidak ada     stomatitis, gigi tidak karies
    Telinga     : simetris, pendengaran baik, tidak ada secret, gendang telinga tidak pecah
    Leher     : tidak ada pembesaran kelenjar parotis, tiroid, limfe dan vena jugularis
Dada     : simetris,tidak ada retraksi dinding dada,tidak ada wezing
    Payudara     : simetris, puting menonjol, hiperpigmentasi mamae, kolostrum sudah keluar
    Abdomen : tidak ada bekas operasi, tidak ada linea alba, tidak ada  striegravidarum
Palpasi leopod
    Leopod I     : teraba bulat, tidak melenting, lunak, berati letak letak di fundus bokong
    Lepod II     : bagian kanan teraba kecil-kecil,tidak ada tahanan berati ekstremitas,  bagian kiri teraba memanjang seperti papan,ada tahanan berarti punggung
    Leopod III    : bagian terendah janin teraba bulat, melenting, keras, tidak bisa digerakan berarti kepala
    Leopod IV     :tanggan tidak biusabertemu berarti kepala belum masuk panggul
Osborn test             : -
TFU menurut Mc.Donald    : 33 cm    
TBJ                : (31-11)x155=3100gr
Auskultasi DJJ        : 155x/ menit
Ekstremitas atas         : jumlah jari lengkap, kuku tidak pucat, tidak terdapat odem, gerakan ekstremitas bawah    : jumlah jari lengkap, kuku tidak pucat, tidak odem, tidak varises, reflek patela positif
: bersih, tidak ada pembesaran kelenjar bartolini, tidak varises,
Anus                 : bersih, belubang, tidak hemoroid
Pemeriksaan panggul (bila perlu)     : -
3.      Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laborat
HB : 8 gr/ dl
4.      Data penunjang
Tidak ada  
II.     INTEPRETASI DATA
A.    Diagnosa kebidanan
Seorang Ny Y umur 21 tahun G1P0Ab0  Uk 37+1 minggu, janin tunggal, hidup intrauteri, puki, preskep suspect solusio plasenta.
Ds :- ibu memgtakan ini kehamilan yang pertama
- ibu mengatakan baru berumur 21 tahun
- ibu mengatakan HPM  : 6-5-2012
Do: - KU        : baik
       -Kesadaran    : composmetis
       - vital sign    : TD    :11O/70 mMHg        S    :36,5 C
          N    :21x/ menit            R :81x/menit
- TFU        :33 cm
-BB        : 55kg
- DJJ        : 155x/ menit, ireguler tidak jelas
- Leopod I    : teraba bokong
- Leopod II    : teraba punggung disebelah kiri
 - Leopod III    : teraba kepala
- Leopod IV    : teraba kepala sudah masuk panggul
B.     Masalah
-gangguan rasa nyaman, nyeri
C.    Kebutuhan
Tidak ada
III.     IDENTIFIKASI DIAGNOSA / MASALAH POTENSIAL
•    Potensial terjadinya fetal distres
•    Potensial terjadinya syok hipovolemik pada ibu
IV.     ANTISIPASI TINDAKAN SEGERA
•    Lakukan pemasangan infus
•    Lakukan rujukan ke dokter SPOG
V.     PERENCANAAN                     Pukul : 15.10 WIB
1.      Beritahu ibu tentang hasil pemeriksaan/kondisi ibu
2.      Ajarkan ibu untuk mengatasi rasa nyeri
3.      Anjurkan ibu untuk bedrest
4.      Beri KIE tentang tanda bahaya kehamilan
5.      Beri KIE nutrisi ibu hamil
6.      Pantau adanya tanda dan gejala syok hipovelemik
7.      Lakukan pemeriksaan DJJ secara periodik
8.      Lakukan rujukan
9.      Dokumentasi
VI.     PELAKSANAAN                     Pukul : 15. 15 WIB
1.      Memberitahu ibu hasil pemeriksaan bahawa ada tanda-tanda pelepasan plasenta yang menyebabkan rasa nyeri pada perut ibu dan akan menyebabkan kematian janin bila tidak segera dirujuk ke dokter SPOG.
2.      Mengajarkan pada ibu teknik relaksasi dengan cara tarik nafas dalam dari hidung kemudian dikeluarkan lewat mulut secara perlahan.
3.      Menganjurkan ibu untuk istirahat total ditempat tidur dan mengurangi aktifitas yang berat.
4.      Memberitahu ibu tentang tanda bahaya kehamilan yaitu janin tidak bergerak, keluarnya darah yang berwarna merah kecoklatan dari jalan lahir, keluarnya air ketuban sebelum waktunya dari jalan lahir, pusing yang hebat, demam yang tinggi
5.      Memberitahu ibu untuk makan,makanan yang bergizi yang mengadung protein misalnya tahu, tempe, telor dan ikan. Karbohidrat misalnya nasi, roti, jagung, singkong dan lain-lain. Vitamin misalnya buah-buahan dan sayuran. Mineral misalnya susu dan sayuran hijau-hijauan.
Memberitahu ibu agar tidak makan makanan yang mengganggu kesehatan misalnya bahan makanan yang banyak mengadung bahan pengawet, minum minuman berakohol, minum jamu dan merokok.
6.      Memantau adanya tanda syok hipovelemik dengan cara melalukan pemeriksaan tanda-tanda vital sign,KU.
7.      Melakukan pemeriksaan/pemantauan DJJ secara periodik setiap 15 menit sekali
8.      Melakukan rujukan ke dokter SPOG
9.      Melakukan dokumentasi
VII.     EVALUASI                         Pukul : 15.45 WIB
1.      Ibu mengatakan sudah mengetahui tentang keadaanya
2.      Ibu mengatakan sudah mengetahui tentang teknik relaksasi dan ibu dapat menjelaskan kembali.
3.      Ibu bersedia untuk melakukan istirahat total ditempat tidur dan mengurangi aktivitas yang berat.
4.      Ibu mengatakan sudah mengetahuitanda bahaya kehamilan dan ibu sudah dapat menjelaskan kembali
5.      Ibu mengatakan sudah mengetahui tentang nutrisi ibu hamil dan ibu dapat menjelaskan kembali
6.      Sudah dilakukan pemantuan pda ibu
7.      Sudah dilakukan pemantauan DJJ
8.      Sudah dilakukan rujukan ke dokter SPOG
9.      Sudah dilakukan dokumentasi